Di sebuah perempatan kota Pelajar, manakala aspal hitam mulai mengering setelah di basahi hujan semalaman, bias-bias cahaya berlomba mencapai permukaan melewati ranting dan dedaunan pohon yang menutupi jalan itu membentuk atap, jejeran kendaraan mulai memadati dan saling menunggu untuk dapat melalui perempatan itu. Petik demi petik senar gitar mulai menemani para pengendara yang mulai bosan di siang itu, suara lirik lagupun mulai mengikuti, receh demi receh mulai berpindah tangan. Tak hanya satu, tetapi banyak, banyak sekali orang yang berlalu lalang diantara kendaraan itu bersama dengan gitar ataupun hanya tepukan tangan saja.
Seorang pria bernama Pandi dengan helm dan jaket hijau ikut berbaris di perempatan itu dengan motor maticnya, seketika obrolannya dengan penumpangnya terhenti dan menjadi bisu ketika mendengarkan suara remaja bermain gitar. Alunan gitar itu perlahan menyelinap dibalik helm hijau itu dan mulai memasuki telinga Rohman dan sang penumpang, suara kas pengamen jalanan mulai terdengar dan merdu keluar dari mulut remaja itu.
“Jangan panas-panasan terus, jangan lupa sekolah, ini dipakai buat makan ya.” seru Pandi setelah memberikan selembar uang seribu rupiah kepada anak itu.
“Makasih ya om, hati-hati dijalan.” balas remaja itu dan mulai menenteng gitarnya mencari uang receh lain.
Dibanding pengamen lainnya di perempatan ini, Tebe merupakan pengamen paling kecil dan paling gesit. Hampir tiap lampu merah remaja 14 tahun ini sering lalu lalang dan tidak mengenal lelah dalam mencari receh demi receh. Bahkan semua teman-temannya sering mengingatkan ia untuk istirahat sejenak.
Namun sayangnya, hari ini bisa menjadi akhir dari nasib Tebe menjadi seorang pengemis, mengingat hari itu adalah dimana jadwal Dinas Sosial bersama dengan Satpol PP mengadakan operasi pengemis dan para gelandangan. Puluhan petugas dengan pakaian coklat dan pentungan di tangan serta baret hitam menempel secara miring di kepalanya menandakan petugas ini sudah siap untuk melakukan aksinya.
“Jangan sampai ada yang lepas, sore ini jangan ada lagi kekerasan. Tegas boleh, tapi tidak kekerasan!” komando salah seorang petugas dengan pakaian dan gaya yang sama dengan sekitarnya, tetapi hanya saja tali peluit berwarna merah menempel pada pundak kanannya.
“Siap dimengerti komandan!” seru puluhan petugas menerima perintah salah seorang komandan pada sore itu.
“Awas ada operasi..”
”Satpol PP, operasi lariiii…”
“Semua! Tangkap semua, jangan sampai lepas!” Komandan terus memberi arahan.
“Ampun pak kami cuma mau cari uang makan pak.”
“Sudah berkali-kali kamu melakukan hal ini.” Tegas seorang petugas dengan amarah.
“Tidak ada ampun lagi bagi kalian sekarang.”
Seketika suasana perempatan berubah menjadi kekacauan, riuh Tebe dan kawan-kawan berhamburan beserta pedagang asongan sekalipun. Tak sedikit dari mereka yang melawan petugas. Beberapa kali teriakan terdengar seperti
“Pak adewe ki mung nggolek duit nggo mangan !”
“Uwong cilik susah urip!”
Masyarakat dan pengguna jalan seolah terdiam dan terkaget-kaget melihat kejadian sore ini, tidak ada satu tangan pun yang tergerak untuk membantu mereka. Semua mata menjadi saksi ketika Tebe dan kawanannya lari pontang-panting dan sisanya digiring ke dinas sosial.
Terlepas dari diskriminasi masyarakat. Bagaimana pun juga, jalan raya akan terus menjadi tempat mereka bermain dan tinggal, tidak peduli seberapa keras kehidupan di jalan. Rasa malu sudah hilang dalam hati mereka, hanya satu yang mereka inginkan yakni masih bisa makan esok hari.
(Dhony Ponco P)
0 Komentar