28 Februari, Perguruan Tinggi ISI Yogyakarta mendapat kesempatan untuk
melakukan pemutaran perdana film komedi romantis Australia Top End Wedding
dalam Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2020. Festival tersebut adalah perayaan kreativitas
dan keragaman di Industri film Australia dan Indonesia, dimana pada tahun
kelima ini FSAI digelar di Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Mataram, dan
untuk pertama kalinya diselenggarakan di Kota Yogyakarta.
FSAI 2020 dipersembahkan oleh Australia Connect, yakni serangkaian
program acara menarik di Indonesia sepanjang tahun 2019 dan 2020 yang
menampilkan sektor-sektor kreatif Australia yang berkembang pesat melalui musik,
film, dan seni.
Pada saat pembukaan Gary Quinlan Duta Besar Australia untuk Indonesia
mengatakan “ Film merupakan jendela menuju budaya lain dan pilihan kami atas
film Australia dan Indonesia karya para alumni Australia memberikan wawasan
tentang kreatifitas dan keragaman kedua negara kita”. Tentu saja pernyataan
tersebut membuka peluang para sineas untuk lebih berkolaborasi dalam berkarya
ditengah industri perfilman yang semakin kompetitif.
Untuk memantik diskusi pada master class, FSAI edisi Yogyakarta dihadiri
oleh sineas kawakan yang berkecimpung dalam dunia perfilman seperti Simon
Wilmot seorang dosen film senior dari Deakin Univerity, Imogen Thomas seorang
penulis dan sutradara drama keluarga, serta Nicholas Aristia seorang founder
industri kreatif yang bernama KreatifHub .
Andini, seorang mahasiswi ISI mengaku sangat antusias selama mengikuti
rangkaian acara tersebut. “bagus banget, positif, jadi tahu ilmu yang lebih
teknis soal perfilman Australia”.
Menjadi harapan besar bagi kedua pihak antara ISI dengan Australia Connect
yang meliputi atas Kedubes Australia dan Deakin University untuk melakukan
kerjasama lebih dalam lagi. Tidak memungkiri bahwa mahasiswa yang telah lulus
studi SI jurusan perfilman ISI Yogyakarta akan mendapat proyeksi lebih untuk
melanjutkan studinya di Deakin University.
(Dhony Ponco P)

0 Komentar