![]() |
| Foto: Satiya Paradita |
YOGYAKARTA - Selain dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, Yogyakarta ternyata memiliki sisi keistimewaan lainnya. Salah satu hal yang menarik perhatian saat berada dikota ini adalah hamparan kedai kopi yang menjamur dari utara hingga selatan. Tak dapat dipungkiri lagi, keadaan ini ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi para pelancong yang berkunjung ke Yogyakarta.
Dilansir dari Tirto.id pada tahun 2016 setidaknya terdapat 600 kedai kopi yang terdaftar di Yogyakarta dengan omset sekitar Rp. 350,4 miliar dalam satu tahun. Angka dan peluang usaha yang sangat menggiurkan ditengaberkembangnya lifestyle mengkonsumsi kopi di tengah masyarakat Indonesia.
Hingga Januari 2020, jumlah kedai kopi terus bertambah. Namun sayangnya banyak pula yang terpaksa gulung tikar diusia yang belum genap satu tahun. Hal tersebut terjadi lantaran dibutuhkan kesiapan mental serta strategi khusus untuk bisa menarik konsumen sesuai dengan target segmentasi yang diharapkan. Kopi bukanlah satu-satunya faktor penentu. Ada banyak faktor lainnya seperti hospitality, lokasi strategis, tempat dan konsep bangunan yang nyaman, hingga barista yang professional.
“hal terpenting yang dibutuhkan sih inovasi yaa. Contohnya aja nih, ga banyak kedai yang berani untuk buka khusus ngopi pagi, hampir semuanya malam. Padahal kalau kita berani beda dan ga saklek ngikutin maunya pasar, kita bisa lebih dikenal. Jadi inovasi bukan cuma tentang menu sih, gimana feel sebuah kedai bisa sampai juga jadi hal yang penting” ucap Nikita, salah satu barista di Kemari Coffee and Space.
Kemari Coffee merupakan satu diantara ribuan kedai kopi yang mampu bertahan. Menginjak usianya yang kedua, Kemari Coffee berusaha untuk selalu mampu mencuri hati para konsumen hingga saat ini. Menurut Bobie Ronaldo, selaku owner dan manager Kemari Coffee, perlu strategi khusus untuk bertahan ditengah persaingan dan menjamurnya industri kopi di Yogyakarta.
.
“Menurutku ya yg penting konsisten aja sih, konsisten dari produk, pelayanan terus juga harus liat apa yanng lagi di butuhin sama masyarakat sekarang ini juga tapi bukan berarti ikut-ikutan tren gitu, cuma lebih ke arah inovasi apa yang cocok sama segmen pasar”, jawab Bobie.
“kebetulan baru dua, satu di Gowok satu di Palagan. Gowok dengan konsep space dan Palagan dengan konsep express.”, ungkap Bobie, pengusaha muda yang menggeluti Industri Kopi sejak 2017. (Satiya Paradita).

0 Komentar