Bukankah lingkungan yang bersih dan indah menjadi dambaan semua orang, tak peduli berapa usia dan jenis kelaminnya? Namun nampaknya hal tersebut tidak akan terwujud jika pola hidup bersih dan sehat belum diterapkan oleh seluruh masyarakat. Masyarakat masih belum mempunyai kesadaran untuk membuang sampah pada tempat yang seharusnya.
Seperti apa yang terjadi di selokan yang berada di Dongkelan, Ringroad selatan, tepatnya di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Sampah yang dibuang warga terlihat menumpuk dan menutupi aliran air di selokan tersebut. Berdasarkan penuturan dari Sigit yang merupakan mahasiswa perantauan dari Jakarta yang tinggal di daerah tersebut, mengatakan bahwa sampah-sampah tersebut bukan hanya berasal dari warga sekitar saja, tetapi juga berasal dari warga sepanjang aliran selokan yang membuang sampahnya kedalam selokan. Lanjut Sigit, sampah-sampah tersebut terbawa oleh arus air ketika hujan deras dan kemudian menumpuk di sana. Sigit yang merupakan warga asli Jakarta juga mengatakan bahwa jika warga tidak kunjung menyadari betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya, lambat laun dapat menyebabkan banjir. Selain itu, aliran air yang tersumbat juga dapat menyababkan timbulnya genangan air yang kemudian menjadi tempat berkembang biaknya nyamnuk demam berdarah. Apa yang menjadi keluhan Sigit nampaknya belum sepenuhnya menjadi perhatian warga yang tinggal di daerah sepanjang selokan tersebut.
Sebagai seorang warga asli jakarta yang menumpang belajar di Jogja, Sigit berharap bahwa Jogja tidak akan menjadi sepertti Jakarta yang dilanda banjir setiap tahunnya. Banjir yang mungkin akan terjadi bisa saja merugikan warga Jogja, banjir akan melumpuhkan perekonomian masyarakat yang kemudian akan merugikannya secara materi. Kekhawatirannya tersebut cukup beralasan, mengingat bahwa daerah sekitar kampung halamannya cukup sering dilanda banjir, dia tidak ingin kejadian serupa terjadi di Jogja. Tidak hanya merugikan secara ekonomi, bagi mahasiswa seperti dirinya jika banjir melanda Jogja maka akan menghambat proses belajarnya, padahal belajar adalah tujuan utamanya untuk tinggal di Jogja.
Kebersihan lingkungan yang tidak terjaga akan menjadi cerminan gaya hidup masyarakt yang tidak sehat. Selain merugikan diri sendiri, kebersihan lingkungan yang tidak terjaga akan merugikan masyarakat banyak juga, bahkn masyarakat yang tidak bersalah aksn terkena imbasnya pula. Bencana banjir yang merupakan potensi bencana terbesar akan terus menghantui warga jika tidak merubah kebiasaan membuang sampah di selokan. Seperti apa yang dikatakan oleh Sigit, sampah yang menyumbat aliran selokan akan membuat aliran air tidak lancar sehingga menimbulkan banjir ketika hujan besar melanda seperti yang terjadi di kampung halamannya Jakarta. Tidak hanya Sigit, tentunya warga sekitar pun tidak menginginkan jika daerah tempat tinggalnya dilanda banjir. Selain banjir, poensi penyakit demam berdarah pun akan menghantui warga jika sampah terus dibuang ke selokan dan menyumbat aliran air. Aliran air yang tersumbat akan menjadi habitat baru bagi nyamuk Aedes Aegypti atau yang lebih dikenal dengan nyamuk DBD. Jika hal tersebut terus berlanjut, potensi warga terkena penyakit DBD pun akan semakin besar. Potensi bencana dan penyakit yang besar itu akan dapat di hindari jika warga mempunyai kesadaran yang lebih terhadap kebersihan lingkunganya. Lingkungan yang terjaga kebersihannya tentunya juga menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi manusia.
Sudah selayaknya kebersihan menjaga kebersihan lingkungan menjadi perhatian bersama dan sudah selayaknya bagi siapapun untuk menjaga lingkungannya tetap bersih. Membiasakan diri untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan tidak membuang sampah sembarangan adalah langkah kecil dan paling mudah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman. Pola hidup membuang sampah sembaranganlah yang harus dibuang jauh-jauh. Jogja yang mempunyai julukan kota pelajar sudah seharusnya mempunyai pola hidup selayaknya seorang pelajar juga, yaitu menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan apalagi membuangnya di selokan. (M. Fajar K).

0 Komentar