Penjaga Keutuhan Cagar Alam Adalah Kita



Cahaya matahari menyeruak masuk disela-sela pepohonan yang rindang. Angin berhembus membelai daun-daun pepohonan membuat mereka tampak menari. Gerimis pagi menggelayuti dedaunan, cahaya nya bagai kristal yang memancar pesona kilau. Seakan berlomba dengan sinar matahari yang mulai terasa dikulit menandakan hari sudah mulai siang. Terlihat induk rusa mencari makan bersama anaknya, sesekali terpeleset mengikuti irama berjalan sang ibu. Di dekat tempat peristirahatan pengunjung, melihat seorang lelaki menggunakan seragam bercorak orange dan hitam rapih, disertai nametag didekat saku kirinya. Mulut dan tangannya begitu cekatan dan terampil menjelaskan detail keindahan cagar alam pangandaran.

Hal demikian agaknya sudah biasa dilakukan oleh laki-laki itu. Dengan kedua tangannya membawa satu album penuh foto keindahan yang ada di cagar alam pangandaran. Tanpa jeda menjelaskan dan menjawab pertanyaan para turis mengenai detail objek wisata alam yang ada disana. Pemandangan demikian bukan hal baru lagi untuk pemandu wisata cagar alam pangandaran yang setiap harinya kedatangan ratusan turis dari berbagai penjuru Indonesia.

Setiap paginya, di saat pintu rumah warga masih terkunci rapat, di saat orang-orang masih sibuk mempersiapkan diri menjalani aktifitas di pagi hari, Lasimin sudah menaiki motor tuanya menuju cagar alam pangandaran. Sudah rutinitas Lasimin sebelum cagar alam pangandaran di buka sudah sampai di tempat. Bersikukuh datang lebih awal untuk mengecek keadaan cagar alam ini, tidak cuma itu alasannya tetapi  juga mendatangi para turis lebih awal demi harapan bisa mendapatkan pundi uang dalam jumlah yang banyak.

Walaupun sudah mendapatkan gaji dari pemerintah, dirasa tidak cukup untuk membiayai kehidupan dan keluarganya. Jika dikumpulkan uang hasil menjadi pemandu wisata, tentu nilai rupiahnya pun lumayan banyak. Begitulah keseharian Lasimin, bapak dua anak yang mengaku telah bertahun-tahun menikmati berkah dari pemandu wisata selama ini.
“Pekerjaan ini yang bisa menghidupi kehidupan keluarga saya, membiayai kebutuhan istri dan anak saya,” ujarnya menggunakan bahasa sunda.

Beranjak ke sudut cagar alam lain, tidak hanya Lasimin yang bertopang hidup dari tempat cagar alam pangandaran. Masih banyak Lasimin lainnya yang setiap hari menawarkan jasa pemandu wisata walaupun tidak sedikit yang menolak tawarannya. Rasa lelah seakan telah sirna dari sekujur tubuh orang-orang yang tidak pernah lelah menawarkan dan  menjelaskan secara detail keindahan cagar alam pangandaran.

Cagar alam pangandaran tidak hanya menjadi tempat mencari rejeki bagi pemandu wisata. Melihat sudut lain dari cagar alam ini, tertuju pada sosok lelaki tua berpenampilan sederhana, menggunakan kaos sedikit lusuh serta celana hitam yang terlalu sering dipakai sehingga membuat warna celana itu pudar. Tangannya menyapu cepat saat mengumpulkan sampah daun yang berserakan. Bagi Mawardi yang telah bekerja sebagai petugas kebersihan lebih dari 5 tahun lamanya, pekerjaan ini memberikan nafkah bagi dirinya dan keluarga. Walaupun uang yang diterima tidak seberapa, bahkan agar mendapatkan uang tambahan, Mawardi mau menjelaskan sejarah situs-situs yang ada. Mawardi juga tidak mematok harga untuk penjelasannya, cukup seikhlasnya saja.

Melihat kegigihan Mawardi ternyata memiliki alasan tersendiri menurutnya, “Agar cagar alam pangandaran tetap ada maka saya harus membagikan pengetahuan yang saya punya kepada pengunjung. Jika pengetahuan diukur dengan uang, takutnya cagar alam pangandaran tidak berjejak (hilang),” katanya.

Pernyataan Mawardi membuat saya sadar bahwa peninggalan yang ada di dalam cagar alam pangandaran ini merupakan tanggungjawab bersama dalam menjaga dan merawatnya. Caranya tidak harus menjadi dua pekerja diatas, cukup mau belajar mengenai cagar alam pangandaran, tidak buang sampah sembarangan, serta membayar tiket dengan harga yang telah ditetapkan. Karena adanya “mafia” yang tidak mengindahkan peraturan tersebut lalu memberikan harga tiket lebih murah. Padahal fungsi dari tiket tersebut sebagai pemeliharaan cagar alam pangandaran. (Nur Yasmin). 

Posting Komentar

0 Komentar