Om Koko, Pioner Di Balik Bergesernya Budaya Ngopi Coffee Shop di Jogja

Foto Om Koko saat melayani pelanggan di kedai kopi bersama barista-nya

Ternyata adanya budaya ngopi yang sekarang sedang trend tidak semata-mata ada tanpa dukungan para inisiator pioner kopi. Rugi rasanya apabila Indonesia yang dikenal sebagai negara pemilik varietas kopi terbanyak, namun tidak memiliki budaya ‘ngopi’ yang kuat.

Pintaka Yuwana atau yang kerap disapa Om Koko ternyata merupakan salah satunya. Menjamurnya kedai kopi atau coffee shop di Jogja bisa terjadi berkat kemauannya dalam mengenalkan budaya ngopi. 

Ketika ditemui di kedai kopi miliknya pada (17/3) yang beralamat di Gang Argulo, Caturtunggal, Depok, Sleman ia menjelaskan apabila budaya minum kopi yang dibawakannya sebenarnya merupakan meminum kopi dengan metode penyajian ala orang Barat, yaitu karena untuk bisa menyajikannya dibutuhkan perangkat mesin kopi. Tidak sekedar ditubruk menggunakan air panas.

Melainkan biji kopi yang sudah digiling harus diekstrak, kopi itu diperas menggunakan mesin kopi agar bisa keluar sari-sarinya. Hasil kopi yang diekstrak itu disebut esspresso. Espresso ini sebagai bahan utama beberapa sajian kopi yang ada di menu kedai kopinya.

Om Koko di kedai kopinya menjual beberapa sajian kopi, mulai dari yang murni kopi atau yang dicampur dengan susu. Ia menjelaskan apabila best seller-nya adalah Cappucino, sajian kopi khas italia.

“Kalau di Prada sendiri, kita memang sengaja menggunakan Java Coffee, namun yang paling sering dari daerah Ijen digunakan untuk bahan esspresso,” tuturnya.

“Tapi kita juga menyediakan pilihan kopi single origin, kopi yang berasal dari satu daerah dan satu varietas saja. Beda dengan esspresso yang di-blend dari beberapa kopi, umumnya 70% arabika dan 30% robusta.”

Dalam perjalanannya mengenalkan budaya ngopi, Om Koko memiliki berbagai kedai yang pernah dimilikinya. Diantaranya diawali dengan Omah Kopi (OK) yang didirikan bersama sahabatnya di tahun 2003, Koko Kopi (2005), Omah Kopi Jakarta (2007), Prodo (2009), Koin (2010), Prada (2012), dan terakhir Prada Argulo (2015).

Ia menjelaskan kalau sebenarnya ingin menggeser budaya ngopi susu (kopasus) yang pada saat itu nge-trend dikalangan anak muda saat itu, terutama mahasiswa bergeser menjadi kopi esspresso atau kopi mesin. Meskipun begitu, target pasar yang disasarnya bukan juga pada kalangan atas. Tapi kalangan menengah ke bawah. Dibuktikannya dengan harga yang sangatlah murah pada saat itu. Di Kedai pertamanya, Omah Kopi (OK) menjual secangkir Cappucino dengan harga Rp 6000.

Bahkan idealisme yang dituangkannya dalam kopi tidak sembarangan hanya untuk keuntungan semata. Ia selalu menempatkan kedai kopinya sebagai tongkrongan yang produktif. Jika saja menyempatkan mampir, tidak bakal menjumpai orang main game atau kartu dsb. Bahkan, jika ada tak segan untuk mengingatkan dan menyuruh pulang jika susah diperingatkan. Karena sebaiknya secangkir kopi sebagai teman di kala mengobrol diskusi.

“Prada punya tagline yang cukup bagus, “Everything greats after drink a cup of coffee”, selanya saat ditanyai. Segala rutinitas akan terasa lebih baik saat dimulai dengan meneguk segelas kopi.

Ia percaya, budaya ngopi akan membawa hawa positif dalam menjalani rutinitas. Tak hanya itu, baginya kopi adalah jalannya menuju cinta. Sebab, disetiap tegukan kopi membawa ketenangan diantara obrolan yang berlangsung. Sehingga dalam menjalankan bisnis kedai kopi miliknya bukan semata karena keuntungan. Melainkan hobi dan istrinya sendiri.

(Reizal)

Posting Komentar

0 Komentar