Olahan Si Kembang Khas Bantul Sisi Selatan

Pengunjung sedang antri membeli gudeg manggar ibu Jumilan, Srandakan, Sabtu (14/03/2020).

Srandakan merupakan salah satu wilayah yang ada di Bantul, Yogyakarta. Kecamatan ini memiliki dua kelurahan atau desa yaitu Trimurti dan Poncosari.  Srandakan memiliki potensi wilayah yang cukup memadahi dengan ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Kecamatan Pusat Pertumbuhan Ekonomi. Hal ini karena di sana terdapat industri rumah tangga seperti,  industri bakmi, meubel kayu, makanan kecil dan kerajinan. Terdapat pula objek wisata seperti, pantai dan desa wisata yang tentunya menarik perhatian masyarakat setempat, bukan hanya daerah Srandakan saja tetapi wilayah Yogyakarta bahkan hingga luar kota.

Ketika wisatawan berkunjung ke Yogyakarta tentunya belum lengkap jika hanya menikmati keindahan panorama alam dan budayanya saja. Sebagai makanan khas Yogyakarta, gudeg tentunya menjadi pilihan utama wisatawan. Namun, sayangnya masih banyak masyarakat yang hanya mengetahui nama gudeg saja tetapi tidak memahami jenis-jenis dari gudeg tersebut. Secara umum, gudeg dibedakan menjadi dua, yaitu gudeg basah dan kering. Kemudian dari dua jenis tersebut dibagi lagi menjadi tiga yaitu gudeg gori (nangka), rebung dan manggar. Dari ketiga jenis gudeg tersebut, gudeg manggar lah yang paling istimewa karena memiliki rasa yang berbeda dengan gudeg lainnya yang manis, gudeg manggar memiliki rasa yang gurih. Nama manggar sendiri merupakan sebutan bagi bunga kelapa yang masih muda. Gudeg manggar ini hanya disajikan dalam acara khusus dan biasanya juga disajikan dalam acara pernikahan anak Sultan. 

Meski begitu, wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta sebenarnya tidak perlu khawatir karena dapat mencicipi pada warung makan yang menjualnya. Gudeg manggar merupakan makanan tradisional yang terkenal di kalangan masyarakat Bantul, salah satunya wilayah Srandakan sebagai lokasi yang bisa dijadikan pilihan untuk menikmati lezatnya gudeg manggar tersebut. “Warung Bu Jumilan” adalah warung makan yang menyediakan gudeg manggar sejak tahun 1992. Gudeg manggar yang bertempat di Jalan Srandakan, Mangiran, Trimurti, Srandakan, Bantul ini  memang tidak ramai pembeli tetapi dalam sehari dapat menghabiskan sekitar  15 kg bahan baku. Lokasi untuk mendapatkan gudeg manggar ini cukup jauh jika ditempuh dari Yogyakarta yaitu kurang lebih 20 km.
“Warung Bu Jumilan” menjadi usaha yang turun temurun karena pemiliknya yaitu Bu Jumilan sendiri telah meninggal pada tahun 2012 yang lalu. Mulai tahun tersebut hingga sekarang usaha gudeg manggar diteruskan oleh Ibu Sumaryanti sebagai anak perempuan dari Ibu Jumilan. Walaupun berbeda tangan yang membuat gudeg manggar tersebut, tetapi tidak menghilangkan cita rasa khas dari makanan khas Bantul satu ini. Dalam menjaga rasa dari gudeg manggar, Ibu Sumaryanti telah mewarisi resep dari keluarganya sehingga usahanya tetap sukses hingga saat ini dengan banyaknya pengunjung yang ingin mencoba rasa gudeg manggarnya.

“Warung gudeg manggar ini justru mengalami peningkatan omset, ya sekitar 1 juta an per hari” ungkap bapak Agus sebagai suami dari ibu Sumaryanti yang meneruskan bisnis gudeg manggar bu Jumilan tersebut .

Gudeg manggar adalah salah satu jenis gudeg basah. Berbeda dengan gudeg kering, gudeg basah merupakan hasil olahan gudeg yang hanya sampai perebusan. Gudeg basah disajikan bersama areh (kuah santan). Sehingga gudeg manggar sendiri akan bertahan selama kurang lebih 20 jam. Sesuai dengan namanya, gudeg manggar terbuat dari bahan dasar bunga kelapa yang masih muda. Bahan dasar yang unik ini dapat ditemukan di daerah tertentu, seperti Kulon Progo, Purworejo, Kebumen, Kutoarjo dan sekitar kecamatan Srandakan sendiri. 

Gudeg manggar sebagai makanan khas masyarakat Yogyakarta khususnya Bantul ini seharusnya dapat menjadi tujuan kuliner para wisatawan. Namun, bapak Agus menjelaskan bahwa potensi daerah seperti Srandakan belum banyak dikenal oleh masyarakat Yogyakarta sendiri. Padahal, makanan unik seperti gudeg manggar ini dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memperlihatkan sisi tradisional lain dari kota Yogyakarta yang sudah dijuluki sebagai kota budaya tersebut. Bukan hanya meningkatkan nilai kuantitas dari gudeg manggar sendiri tetapi juga perlu adanya nilai tambah dari kualitasnya dengan menambahkan variasi dari gudeg manggar tersebut, namun  tidak menghilangkan cita rasa yang khasnya agar masyarakat merasa penasaran dengan gudeg tersebut. Apalagi gudeg manggar dapat berpotensi untuk dijadikan makanan kuliner di Srandakan agar menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara  berkunjung ke wilayah ini. Sehingga diharapkan melaui media informasi yang semakin maju akan mulai mengenalkan adanya gudeg manggar kepada khalayak umum dan dapat menambah jumlah wisatawan berkunjung ke wilayah Srandakan. 

(Novia Agri)

Posting Komentar

0 Komentar