Muhammadiyah dan Salafisme: Perdebatan Istilah dalam Usaha Penafsiran 



Yogyakarta – Pembahasan mengenai salafi selalu hangat dalam perbincangan mengenai agama Islam. Baik pada masyarakat pada umumnya, hingga pada pemerintahan dan berbagai pihak yang merasa berkepentingan terhadap ajaran salafi.

Muhammad Hilal Basya, mencoba menjelaskan perihal salafisme dalam acara bedah buku Muhammadiyah dan Salafisme, pada Kajian Malam Sabtu di Gedung PWM DIY, Jumat lalu (21/2). Buku tersebut adalah hasil dari penelitian Basya tentang Muhammadiyah dan Salafisme, khususnya tentang perlawanan cendekiawan Muhammadiyah terhadap revivalisme Islam pada masa reformasi.

Madawi Al-Rasheed sebagaimana dirujuk oleh Basya, mengklasifikasikan Salafi menjadi Salafi Revivalis dan Salafi Reformis Modernis. Basya menjelaskan bahwa salafisme merupakan ajaran yang merujuk secara ketat terhadap Al-Quran, Sunnah, dan tafsir-tafsir ulama As-Salafus Salih.  Salafi revivalis cenderung intoleran, tekstual, dan konservatif. Sementara salafi yang reformis modernis menafsirkan semangat Islam pada zaman Rasulullah secara kontekstual dengan kondisi saat ini. Salafi revivalis sendiri terdiri dari yang diam dan tidak ingin terlibat dalam politik, hingga jihadis yang memerangi pemimpin yang dianggap keluar dari Islam.

Penelitian Basya mengacu pada perkembangan salafisme di era reformasi. Reformasi menimbulkan euforia ideologi akibat kebebasan berpendapat yang dilindungi, yang berpotensi memunculkan ekstrimitas di tubuh Indonesia. Termasuk di antaranya adalah gagasan-gagasan negara Islam.

KH Ahmad Dahlan menurut penelitian Basya mengenal salafisme berkat Syekh Tahir Jalaluddin Al-Azhari yang mempelajari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho.di Al-Azhar. Ahmad Dahlan juga membaca majalah Al-Manar, Al-Urwatul Wusqa. Sehingga, ideologi Muhammadiyah pada masa KH Ahmad Dahlan mengembangkan pemikiran salafi. “Bukan salafi yang revivalis, tapi salafi yang reformis modernis,” terang Basya.

Awalnya, Muhammadiyah berisi orang-orang aristokrat yang belajar di Belanda maupun di sekolah Belanda. Sehingga orientasi yang dimiliki adalah modernisasi Islam. Ketika kelas pedagang mulai berkontribusi di Muhammadiyah, terdapat persaingan dengan pedagang pendatang sehingga identitas agama menguat. Sementara itu elit Muhammadiyah yang bersentuhan dengan ulama yang belajar di Mekah ketika Wahabi menduduki Mekah turut berperan pada masuknya salafi revivalis ke Muhammadiyah.

Basya menjelaskan bahwa label salafi selalu diperebutkan sebab salafi dianggap menggambarkan Islam ketika masih murni. Muhammadiyah sendiri memiliki banyak fraksi yang susah untuk diklaim mana yang paling Muhammadiyah. Setiap orang memiliki modal budaya yang berbeda, yang menimbulkan pemahaman dan pandangan yang berbeda. Dalam batas-batas yang kabur tersebut, Basya menegaskan bahwa yang membedakan Muhammadiyah adalah kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan umat.

(Labibah Hanoum Hanif Salsabila)

Posting Komentar

0 Komentar