Siapa yang menyangka hobi menjual kartu Lebaran dan kartu Natal di pinggiran toko buku dapat menggelar pameran besar? Organisasi CATEC berawal dari sekumpulan anak-anak muda pada masa itu (1998) yang senang melakukan kegiatan berjualan kartu Lebaran dan kartu Natal di sepanjang pinggiran toko buku “Denok”, depan Gereja Pantekosta dan sebelah barat Pasar Kliwon Temangung. Para anak muda tersebut menggagas ide untuk membentuk sebuah wadah bagi kegiatan seni mereka. Di desa Jampiroso tepatnya di kediaman Pak Sugiarto alias Pak Cilik, mereka menggelar sebuah rapat dengan hasil membentuk kumpulan anak muda tersebut menjadi sebuah organisasi atau komunitas dengan nama “CATEC” dan memilih Pak Sugiarto sebagai ketuanya. CATEC kala itu merupakan sebuah nama dengan arti Carikatur Temanggung Club, hal ini dikarenakan para anggotanya gemar menggambar kartun untuk kartu Lebaran, Natal, dan kartu ucapan lainnya.
Setelah organisasi ini terbentuk, mereka sepakat untuk mengusulkan untuk CATEC disahkan secara formal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Pengesahan Organisasi. Hingga akhirnya, pada 10 November 1998 hasil yang didapatkan begitu memuaskan yakni diresmikannya SK Organisasi CATEC oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Seiring berjalannya waktu, anggota organisasi semakin bertambah yang artinya makin beragam pula keterampilan yang dimiliki oleh para anggotanya. Oleh karena itu, CATEC merubah artinya menjadi Creatif Anak Muda Temanggung Club.
Siapa saja yang memiliki keterampilan dalam bidang melukis atau menggambar, membuat patung, bermusik dan bentuk kreasi seni lainnya (seni kriya) dapat bergabung menjadi anggota CATEC. Pun tidak ada batasan usia untuk menjadi bagian dari organisasi seni ini. Saat ini, terhitung sejak tahun 1998 hingga 2020 jumlah anggota adalah 40 orang. Anggaran dana CATEC sendiri berasal dari iuan anggota untuk setiap acara dan terdapat uang kas CATEC. Adapun donatur dan sponsor untuk CATEC.
Kegiatan organisasi yang tadinya hanya hobi menjual kartu ucapan, semakin berkembang sejak menjadi organisasi formal, CATEC sering mengikuti pameran pembangunan yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Temanggung. Pameran CATEC sendiri selalu jatuh pada tanggal 10 November sebagai bentuk penghormatan pada hari lahir Organisasi tersebut dan menyambut hari Pahlawan Nasional.
Selain pameran yang digelar pada tanggal 10 November yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Temanggung, kegiatan rutin organisasi lainnya adalah selalu mengadakan pameran lukisan kolaborasi bersama pelukis luar kota, mengadakan kegiatan amal dan sosial, mengadakan lomba lukis untuk anak sekolah, serta mengikuti pameran di luar kota Temanggung yang diadakan oleh organisasi lainnya.
“Sejak terbentukya pada tahun 1998 CATEC selalu mengadakan pameran rutin setiap tahunnya, dan sempat mengalami kevakuman tidak berpameran.” Ucap Tri Stya, salah satu anggota CATEC sejak awal berdirinya organisasi ini terbentuk.
Baru-baru ini pada tanggal 19 hingga 23 Februari lalu, CATEC menggelar pameran dengan tajuk “Jiwa Tak Terbatas” yang diikuti oleh anggota CATEC serta para seniman luar kota. Inti konsep dari pameran ini adalah untuk memacu pecinta seni di Temanggung agar lebih bergairah dan bersilaturahmi sesama perupa seni. Para seniman tersebut berasal dari Temanggung sebagai tuan rumah, Yogyakarta, Borobudur, Magelang, Grabag, Ambarawa, Salatiga, Boyolali, Kudus, Jakarta, dan Bali.
Acara dibuka oleh kolektor kelas nasional, yaitu Oei Hong Djien alias OHD dan bapak Sekretaris Daerah mewakili Bupati dan Wakil Bupati yang tidak dapat menghadiri pembukaan pameran kala itu. Sebelum acara dimulai, pameran dibuka dengan pagelaran wayang. Pameran ini diikuti oleh para pelukis kelas nasional maupun yang sudah “go internasional” seperti Lucia Hartini, Klowor Waldiyono, Awiki, Dedy Paw, Umar Chusaeni, Wawan Geni, Cipto Purnomo, dan lainnya.
“Pameran ini vibes nya berbeda dengan pameran-pameran seperti biasanya.Meskipun disajikan secara sederhana tetapi hasil karya yang disajikan oleh beberapa seniman membuat kesan pameran ini megah dan exclusive untuk para pengunjungnya. Sukses terus untuk Komunitas CATEC!” kata Andre Hanif (21 tahun), salah satu pengunjung pameran Jiwa Tak Terbatas yang berasal dari Yogyakarta (22/02).
(Sekar Anindyah Lamase)


0 Komentar