Narasi Kampus Merdeka Menurut Eko Prasetyo



Terlihat ruang 112 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  menjadi ruangan teramai diantara jajaran ruang kelas dalam koridor bernuansa oranye di kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, pada  Jumat, 13 Maret 2020 silam. Pukul 20.00 WIB, diskusi bertajuk Pendidikan dalam RUU Cipta Kerja "Omnibus Law' Solusi atau Masalah Baru dimulai. Waktu ini telat dua jam dari waktu yang terjadwal di poster undangan diskusi. Kurang lebih 20 peserta hadir dalam diskusi yang diisi oleh dua pemateri yaitu Eko Prasetyo, penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah dan Dewa Putu Adi Wibawa,pemerhatui hukum dan konstitusi. 
Menurut Eko Prasetyo,  kondisi pendidikan di hari-hari ini sangatlah pragmatis. Di sini, Eko Prasetyo justru tidak membahas soal pendidikan dalam RUU Cipta Kerja "Omnibus Law’. Namun ia lebih banyak membahas soal keadaan pendidikan masa kini. “Saya ingin berangkat dari sini, apa yang secara empiris terjadi di dunia pendidikan,” ujarnya.
Isu soal kampus merdeka yang belakangan dicanangkan oleh Nadiem Makarim,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) menjadi bahasan pembuka pada diskusi malam itu. Candaan satire diselipkan Eko dengan menyingung respon rektor beberapa perguruan tinggi yang berlomba-lomba menulis soal Kampus Merdeka. Di sini, ia mempertanyakan soal rektor UST yang tidak menulis. “Saya nunggu rektor UST yang nggak pernah nulis, karena semua rektor nulis soal ini,” ujar Eko yang diikuti tawa mayoritas penghuni ruangan diskusi.

Sebelum masuk pada spesifik pembahasan Kampus Merdeka, Eko terlebih dahulu menyinggung soal beberapa kebijakan Nadiem mengenai pengaturan pendidikan sekolah dasar sampai menengah. Sistem zonasi, penerimaan siswa jalur prestasi, dan penghapusan Ujian Nasional (UN) tidak luput dari pembahasan Eko. Kali ini, ia setuju dengan kebijakan penghapusan UN. Masih dengan candaan satirenya,  ia mengatakan bahwa UN menjadi semacam kegiatan paling kejam. Maka, penghapusan UN adalah kabar gembira bagi peserta didik kelas lima Sekolah Dasar, kelas dua Sekolah Menengah Pertama, dan kelas dua Sekolah Menengah Atas. 

Eko lalu melanjutkan bahasanya pada persoalan spesifik mengenai Kampus Merdeka. Salah satu kebijakan dalam program Kampus Merdeka ini adalah kemudahan bagi kampus untuk membuka jurusan baru. Melalui kebijakan ini, ia melihat bahwa pendidikan menjadi sangat komersil. Perguruan tinggi menjadi berlomba-lomba membuka jurusan baru yang berpotensi menyuntikan dana tinggi bagi perguruan tinggi.  “Jurusan paling menyenangkan, ya kedokteran. Semua orang membuka kedokteran – Kampus buka fakultas kedokteran, ekonomi, dan teknik lah yang kira-kira yang isinya orang kaya, kaya sekali, sampai yang Masya Allah kaya-nya,” ujarnya satire. 

Selanjutnya, Eko mulai masuk pada pembahsan kebijakan Nadiem yang lain, yaitu soal hal belajar tiga semester di luar prodi. Kebijakan ini diakuinya merupakan sistem yang sama dengan yang diterapkan di beberapa kampus  luar negeri. Namun, Eko kembali menyayangkan kebijakan ini yang pada akhirnya banyak mendorong mahasiswa untuk magang. Ia merasa bahwa ini membuat proyeksi pendidikan dalam benak mahasiswa adalah untuk bekerja. “Nah itu sebabnya muncul dalam bayangan kita, proyek yang mengatur semua kehidupan dengan dalil harga,” tuturnya.

Kemerdekaan individu benar-benar menjadi paradigma yang  otomatis dilekatkan dalam dunia pendidikan. “Ya bebaskan siswa, bebaskan siswa, kita bebaskan saja agar semua orang bisa mengekspresikankyekinannya. Kondisi ini kemudian membuat pendidikan hari ini menjadi sangat teknis,” jelasnya. 

Eko merasakan bahwa kuliah pada hari semakin hari semakin teknis dan prosedural. “Rute kuliah jadi sangat panjang dan administratif,” ujarnya. Ia kemudian menyinggung soal sistem daftar ulang yang dirasanya sangat teknis. Imbasnya adalah pendidikan menjadi makin formalistik, ritualistis, dan tidak substansial.

Soal pendidikan yang makin ritualistik, Eko mengatakan bahwa ini berpotensi membuat anak jauh lebih pragmatis dan kurang berani mengambil resiko. 

Namun, mengenai  mengenai program kemerdekaan dalam belajar ini dirasa tidak linier dengan pola ketergantungan terhadap otoritas yang ada. Ia mencontohkan soal peminjaman ruang di kampus. Perkara peminjaman ruang, mahasiswa diharuskan mengurus alur perizininan surat yang panjang  dan sangat administratif. Ia mempertanyakan soal dimana kemerdekaan dalam hal ini?

Pelajar Sebagai Konsumen
Eko Juga melihat bahwa hari ini, pelajar ditempatkan sebagai konsumen. Ini merupakan imbas dari komersialisasi pendidikan. Komersialisasi ini mengingat pendidikan merupakan salah satu sektor jasa yang disepakati dalam Perjanjian Umum tentang Perdagangan Jasa untuk diliberalisasikan. “Pendidikan itu hanya meletakan pelajar sebagai konsumen. Maka yang dipentingkan adalah hal-hal yang nyata (kepuasan konsumen.  Makanya yang dipercantik apa? Gedung!” ucapnya. 
Eko kemudian menyinggung iklan kampus yang ada di baliho-baliho jalan raya yang menampakan gedung dan foto mahasiswa tersenyum dan tampak bahagia. Ini semacam kampus menciptakan narasi bahwa mahasiswa senang jika kampus memiliki gedung yang bagus.

Ia mengutip kata seorang dosen soal pengibaratan mahasiswa sebagai barang dari sebuah butik mahal. “Seorang dosen mengatakan saya tidak merasa seperti seorang guru, dan lebih seperti penjaga butik mahal. Ini artinya kerja dosen adalah menjaga mahsiswa agar lebih senang, bahagia, dan gembira,” ujar Eko. 

Menurut Eko, perguruan tinggi menjadi sangat narsis dengan adanya wacana kemerdekaan kampus yang disokong dengan komersialisasi pendidikan ini “Nah bahayanya, dalam pendidikan yang dibebaskan itu, perguruan tinggi menjadi sangat narsis. Dia memuji dirinya sendiri secara berlebihan karena kompetisinya ketat,” jelas Eko.

Di penghujung materinya, Eko memberikan kalimat terakhir yang menunjukan ironi atas pendidikan di Indonesia. Ia kembali menyayangkan soal pendidikan yang kehilangan marwahnya sebagai tempat menanamkan pikiran “beda” bagi peserta didik. “Pendidikan bukan memaksa mereka untuk bekerja,  tapi memaksa mereka untuk mencintai pengetahuan. Tugas kampus menanam bibit kreativitas . Namun, sekarang situasinya hampir tidak ada,” ujar Eko dengan nada ironi, menyesali keadaan pendidikan masa kini. 

(Arni Arta Rahayu)

Posting Komentar

0 Komentar