BANTUL – Codot alias kelelawar dituduh jadi biang penyebaran virus korona. Sebuah tuduhan yang rasanya sangat serampangan. Tidak ada dukungan bukti dan data. Hanya berita yang diramu dengan bumbu sentimen. Jadilah, publik agak cemas. Ada beberapa daerah di dunia yang menghidangkan codot sebagai menu makanan. Hanya saja, manusia ingin sekali terlihat beda. Tidak semuanya peduli dengan kata dunia. Ketika semua orang menyingkir dari kuliner ekstrem, masih ada mereka tetap menyantapnya.
Sepanjang Jalan Bantul, kita bisa menemui contoh itu. Golongan masyarakat yang tidak peduli apa kata dunia. Tepatnya di Dusun Glondong, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul di sebuah warung kuliner ekstrem codot.
Tidak ada yang spesial, kecuali tulisan codot dan burung emprit berwarna biru di muka warung. Untuk ukuran kuliner, hewan-hewan tersebut jelas tidak lazim. Di samping warung codot, ada pula warung dengan menu tak kalah ekstrim. Sebut saja tongseng anjing. Orang Jawa gemar menyebutnya sengsu alias tongseng asu.
Sekedar cerita saja, satu hari sebelum saya menyambangi warung codot, saya mampir ke warung sengsu. Hari masih sore, warung codot masih tutup saat itu. Lantas, saya pun bertanya kepada pemilik warung sengsu.
“Pak, warung codot kapan bukanya ya?” tanya saya.
“Sebentar lagi, Mas,” jawabnya.
Baru ingin menempelkan bokong ke kursi, mata saya tertuju ke arah belakang warung. Dua orang petugas warung sedang membersihkan dan memotong daging asu. Dagingnya warna merah. Begitu juga dengan kepala asu yang sudah dikuliti. Sepasang matanya juga masih utuh. Baru pertama kali saya menyaksikan kerabat Balto, Air Bud, dan Scooby Doo itu penuh darah. Aneh sekaligus ngilu yang saya rasakan saat itu. Saya pun memutuskan untuk pergi dan berlalu secepat mungkin.
Saya pun belajar dari pengalaman. Sengaja saya datang ke warung codot agak malam. Saya juga mengajak dua orang teman penggemar kuliner ekstrem. Warung sudah buka dan siap melayani pelanggan.
Tidak terlalu luas. Mungkin dua kali luas kos mahasiswa. Hanya ada dua pasang meja dan kursi. Sisa ruangnya dijadikan dapur. Romi, pemilik warung codot mempersilakan kami bertiga duduk. Kami pesan dua tongseng codot dan satu codot goreng.
Sepi sekali saat itu. Hanya ada kami bertiga, Romi, dan raungan suara kendaraan Jalan Bantul. Apakah ini dampak virus korona? Saya bisa mengatakan warung codot ini sangat terkenal. Banyak nama kondhang yang pernah makan di warung ini. Bahkan, pemilik warung codot pernah diundang ke acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta.
Menurut pengakuan Romi, masyarakat tidak terpengaruh dengan isu codot atas penyebaran virus korona. Buktinya, warungnya masih sering dikunjungi. Ada perbedaan cara pengolahan yang mana membuat codot Bantul masih aman dikonsumsi.
Virus korona nyatanya tidak membuat penjualan warung tersebut surut. Kata Romi, salah satu pemilik warung, hingga hari ini warungnya masih ramai dikunjungi. "Gak ngaruh, biasa saja,"
Menurut Romi, codot yang ia jual jauh berbeda dengan codot yang ada China. Codot yang ia jual diambil langsung dari Gunung Kidul. Mula-mula, codot dikuliti terlebih dahulu, lantas dicuci hingga bersih. Tak lupa Romi juga merebus dulu codotnya sebelum siap diolah menjadi hidangan. "Kalau di China dimasak sama kulitnya," katanya
Romi menambahkan, di China bukan hanya codot saja yang diolah bersama kulitnya. Ada jenis hewan lain yang tak lazim, namun jadi kegemaran masyarakat China. "Hla, kalo di sana (China) tikus hidup saja dimakan, ngeri juga," ujarnya.
Di warung tersebut, ada dua cara penyajian codot, yaitu goreng dan tongseng. Sekilas codot goreng tampak kering. Tidak ada kulit maupun sisa bulu yang menempel. Sementara tongseng codot pun sama. Tidak ada kulit. Hanya daging yang tersaji bersama kuah dan sayuran segar.
Meski demikian, ia menampik isu bahwa codot biang keladi atas korona. Apa yang terjadi di China belum sepenuhnya karena codot. Belum lagi tuduhan atas bocornya laboratorium biologi yang terletak di Kota Wuhan. (Hery Setiawan).
0 Komentar