![]() |
| Gelaran Malam Puncak Pertunjukan Orkestra (TBY, 15 FEB) |
Selama sepekan pada tengah Februari SMK Negeri Kasihan (Sekolah Menengah Musik) mendapat kesempatan disambangi oleh grup musik orcestra asal Jepang Wordlship Orcestra (WOS) untuk bekerjasama dalam sebuah projek yang bernama Worldship Orchestra Indonesia Spring Project 2020. Projek tersebut merupakan sebuah rangkaian kegiatan kunjungan yang diawali dengan kegiatan berlatih bersama untuk membuat sebuah kolaborasi musik dengan grup lokal orchestra yang pada puncaknya mereka akan menampilkan pertunjukan musik orcestra bersama, dimana pada tahun ini pertunjukan akan digelar pada 15 Februari yang bertempatkan di Gedung Pertujukan Taman Budaya Yogyakarta. WOS sebagai organisasi non profit berkunjung ke Indonesia membawa sebuah misi mulia, Sumi (26) dari pihak Penakita selaku fasilitator WOS mengungkapkan bahwa mereka ingin membumikan musik klasik kepada anak-anak atau masyarakat yang barangkali tidak pernah mendengarkan musik klasik. WOS menggelar konser musik setahun dua kali yakni pada liburan musim semi dan musim panas pada negara-negara di Asia Tenggara. Yang menjadi sorotan adalah mereka melakukan rangkaian kegiatan ini menggunakan dana pribadi masing-masing personil. Karena mereka pecaya bahwa proses aktualisasi diri yang dikemas bersama tujuan mulia tidak akan ada hasil yang sia-sia.
Sebelum melakukan pertunjukan puncaknya, WOS dan grup orcestra SMM melakukan sesi latihan sebanyak tiga kali pertemuan. Menjadi sebuah tantangan ketika kedua grup musik dengan latar bahasa yang berbeda berlatih bersama. Hal tersebut nampaknya tidak menjadi sebuah penghalang bahwa mereka akan menciptakan sebuah kolaborasi musik yang ciamik, seperti yang diungkapkan Bapak Sutijo selaku kepala sekolah pada saat konferensi pers pada 12 Februari lalu Beliau menuturkan bahwa “perbedaan bahasa tidaklah menghalangi mereka dalam proses belajar bersama, karena mereka akan cukup dipersatukan dengan bahasa musik”.
Pada projek ke4 yang dilakukan di Yogyakarta ini mereka tidak hanya membumikan musik orcestra yang mereka bawa, melainkan mereka juga belajar alat musik yang berasal dari daerah tersebut. Selama di Yogyakarta, mereka mencoba alat musik Gamelan. Mereka mengaku sedikit sulit mempelajari gamelan, karena tidak disertai dengan notasi-notasi angka seperti terdapat pada alat musik orkestra. Namun luarbiasanya, dalam satu pertemuan tersebut mereka langsung dapat memainkannya secara harmoni.
Tidak menutup kemungkinan SMM juga akan melakukan kunjungan balasan ke negara asal WOS. Menjadi harapan kedua pihak bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan berhenti ketika konser puncak yang telah digelar, melainkan moment ini adalah sebagai silaturahmi, pertukaran budaya serta menjadi pintu awal untuk mengembangkan mengembangkan musik klasik pada masyarakat luas. (Dhony Ponco P).

0 Komentar