Dhimas Prasetyo, menyabet tiga medali emas tingkat internasional di Negeri Paman Sam dengan kondisi dirinya yang berbeda dengan orang normal. Ia spesial, kurang pandai urusan teori namun ahlinya olahraga, khususnya badminton. Menjadi seorang Tunagrahita bukanlah pintanya, bukan pula do’a ibunya. Hanya saja Allah SWT ingin melihat bagaimana seorang anak manusia berusia 23 tahun ini menjalani hidupnya. Menyerahkah dengan keadaan atau mengejutkan semua orang? Maka setelah perjuangan dan latihan rutin, Dhimas berhasil mendapatkan tiga medali emas pada Special Olympics World Games 2015 di Los Angeles.
Berbekal tiga medali emas itulah ia melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas Negeri di kota Yogyakarta. Kala itu banyak orang sekitarnya percaya tak percaya, meragukan kemampuan inteleknya dengan ukuran kacamata orang normal.. Katanya lebih baik langsung bekerja saja, bangku kuliah kurang cocok untuknya. Namun benarkah? Pemuda yang pernah mengharumkan nama Indonesia tak cocok mendapatkan pendidikan lebih tinggi lagi lataran kekurangannya?.
Dhimas adalah jawaban. Berstatus sebagai tunagrahita ringan bukan hambatan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Buktinya, kini ia berada di semester 6 dengan IPK yang tak kalah jauh dengan orang penyandang normal. Diri dan kasusnya unik, mungkin pihak univ pun belum pernah menemuinya. Hingga kebingungan bagaimana menanganinya. Alhasil, tak ada perlakuan atau bimbingan khusus pada Dhimas. Sama seperti mahasiswa lain, ia juga mengerjakan setumpuk tugas layaknya orang normal. “Kalo teori tuh bikin pusing, aku bisanya olahraga” tuturnya saat ditanya pendapat tugas kuliah.
Butuh dampingan, bagaimanapun Dhimas berbeda dengan orang normal. Karenanya ia tetap butuh dampingan dalam menghadapi dunia. Begitu kiranya, jawaban Ernyana Ibunda Dhimas. Ernyana menegaskan bagaimana bisa ia malu akan anaknya? Jika ia sendiri malu, lantas bagaimana dengan anaknya? Darah dagingnya. Ditengah kekurangnya, Dhimas adalah salah satu manusia beruntung memiliki orang tua hebat yang mencintainya. Karena dalam beberapa kasus, ada pula orang tua yang menelantarkan anaknya karena malu.
Menjadi seseorang yang memiliki kecerdasan di bawah orang normal tak melemahkan langkahnya meghadapi hidup. Ia buktikan dengan harumkan nama negaranya. Semoga kelak, negara membalas budimu. (Dinda Isradilah).

0 Komentar