Sruppttt... arghh... Samar terdengar suara bibir yang terus menyeruput panasnya secangkir kopi dalam genggaman tangan-tangan itu. Kemelukus uap diatas hangatnya tiap seduhan semakin menambah kuat aroma pahit kopi hitam di penghujung malam. Nampak para barista dengan keluesan tangannya meracik pesanan tanpa perlu melihat resep lagi. Sepertinya resep bukan lagi hal yang perlu menjadi perhatian utama mereka.
Gelap terang gelap terang semakin terang kemudian meredup. Begitulah irama cahaya lampu kecil-kecil yang menyapa lalu lalang para pengendara di sepanjang jalan. Alunan suara musik berpadu dengan desiran angin membawakan suasana tenang dalam kesunyian. Sunyi kala sendiri, berbeda halnya jikalau bercengkerama dengan kawan. Kursi-kursi yang berjajar menyerong arah tenggara dan barat daya membentuk sudut cerita dalam petakan semi terbuka.
Silih berganti. Datang dan pergi. Langkah kanan diikuti langkah kiri beriringan menghampiri sesosok laki-laki dengan sorot mata menawan dan senyuman manis sebagai tanda ucapan selamat datang. Masih dalam senyuman, satu bukupun disodorkan. Lembaran demi lembaran kau buka. “seperti biasa” ucapmu. Ya sudah menjadi rutinitas. Memesan secangkir kopi hitam yang cukup panas di tengah dinginnya malam.
Langkah kaki itu menghampiri setiap meja yang diduduki pelanggan yang nampak loyal. Selalu berkunjung memang. Berucaplah para barista sambil menoleh kanan kiri, mendengar sautan dari nama yang diucapkan. Lambaian tangan adalah sesuatu yang dicari setelah mengucap nama-nama bak melantunkan doa ditengah kerumunan umat. Dihidangkanlah secangkir seduhan hitam panas yang kau pesan tadi. Aroma pahit menusuk-nusuk melalui lubang hidung. Mata terlelap terhanyut dalam cita rasa si hitam pekat.
Gelagak tawa tak ada asingnya di telinga. Kepulan asap cerutu bersanding dengan secangkir kopi adalah kombinasi yang tepat dalam sirkel kecilmu. Dua, tiga, terkadang empat pemuda saling beradu canda. Di tengah itu nampak satu meja dikelilingi cerita entah dari mana. Kesana kemari kau kabarkan harimu siang tadi, satu orang kawan mengiyakan apa yang terjadi, satu lainnya mengangguk dengan masih merasa heran namun mencoba untuk percaya bahwa demikian adanya. Kawan lainnya tetap membuka telinga walaupun tak ada hirau pada saat itu.
Di sudut waktu malam itu, ada sorot mata nampak sayu turut beradu dalam canda. Tangan mengepal bersama mata yang tertuju pada secangkir kopi di depan meja yang memanjang. Arrgggh... Suara itu mulai terucap dari lembut paras suaramu. Nampak kesal penuh peluh dari lubuk hati kecilmu. Kawanmu mendekat, lalu kau mengadu. Kepala menunduk. Rambut terurai bersamaan dengan air mata yang mulai berjatuhan. Menyatu dalam seduhan, pelan dan perlahan sendok kecil itu mulai berputar. Lepaslah beban, lepaslah angan, lepaslah harapan. Menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam “bukan begitu” maksudmu saat itu. Habislah penghujung malammu di tempat yang sepi dalam keramaian.
Eksistensi adalah tentang pandangan seseorang dalam menggambarkan tentang siapa dan apa dalam kehidupannya. Menjadi diri sendiri, mengimitasikan diri dengan yang lain, mengkolaborasikan satu dengan yang lain adalah gaya dalam menyikapi setiap situasi. Semacam apa perilaku setiap orang, cerminkan tentang kepribadiannya. (Kristina)

0 Komentar