Reformasi
telah membuat industri media
Indonesia berkembang pesat. Dalam kurun waktu 22 tahun, Indonesia sudah memiliki
lebih dari 1152
perusahaan media
elektronik maupun
cetak, itu pun masih jumlah yang terdaftar dan terverifikasi Dewan Pers. Jumlah ini
jelas meningkat dari tahun 1998 yang pada saat itu Indonesia hanya mempunyai
lima perusahaan televisi nasional dan puluhan media cetak. Seharusnya, ribuan
media yang ada pada saat ini dapat menyediakan konten yang variatif kepada
khalayak. Nyatanya, konten yang disajikan relatif sama. Karena itu, sudah
menjadi sebuah keniscayaan ketika masyarakat pada akhirnya jenuh dengan
konten-konten media mainstream.
Sejumlah
kalangan sudah mencoba untuk mengembangkan media alternatif dari berbagai platform (radio, cetak, televisi)
untuk menjawab kejenuhan tersebut. Namun, seringkali mereka mengalami kesulitan dalam segi modal. Media
alternatif baru harus banting tulang agar dikenal dan akhirnya dipercayai oleh
khalayak yang tentu membutuhkan materi dan ide yang cukup banyak. Mereka juga
harus bersaing dengan media mainstream yang sudah ‘settle’ di pasar
media. Tetapi, media alternatif maupun mainstream akan tetap mati oleh
teknologi bernama Internet, yang mampu menyediakan konten beragam dari
social media.
Podcast: Radio
Milik Semua
Kehadiran internet kembali membunyikan
lonceng peringatan bagi keberlangsungan media radio. Namun, internet tidak hanya menjadi ancaman untuk
radio, melainkan sebuah peluang yang harus segera dimanfaatkan.
Konten audio yang merupakan basis konten radio, berpotensi untuk
dikembangkan di ranah internet. Selain ‘menyambungsiarkan’ program melalui live streaming di situs radio online,
program-program radio juga dapat didistribusikan melalui media sosial atau secara podcast. Podcast sendiri sudah mulai berkembang di Indonesia saat ini. Istilah ini secara sederhana diartikan sebagai materi audio atau video yang tersedia di
internet yang dapat secara otomatis dipindahkan ke komputer atau media pemutar portable baik secara gratis maupun
berlangganan.
Sekarang, konten podcast cukup berkembang di Indonesia. Mulai dari
berita, wawancara,
hingga feature
atau dokumenter yang
jenisnya semakin beragam dan dikembangkan oleh perusahaan media maupun
individu. Adapun contoh podcast yang
dikembangkan perusaha media podcast
KBR.id yang bisa diakses di situsnya, KBR
Prime. Dalam podcast tersebut, KBR
menyediakan segala program berita hingga feature yang dapat diakses oleh
khalayak kapan saja.
Kemunculan
podcast juga membuka akses untuk semua orang menciptakan konten, atau bisa
disebut user generated content, sehingga seseorang yang tidak bekerja atau
memiliki sebuah media bisa memproduksi konten yang berbasis audio ala radio
dengan ongkos yang murah. Dengan modal smartphone yang dilengkapi perekam
audio, seseorang dapat membuat podcast dan mengunggahnya di platform media
sosial secara bebas. Contohnya Podcast Awal Minggu
milik Adriano Qalbi, seorang stand-up comedian Indonesia yang mengunggah karyanya
melalui platform media sosial Soundcloud dan Spotify. Dalam podcastnya, Ia
mengunggah konten-konten komedi yang berbentuk talkshow atau keluhannya
terhadap sesuatu. Adriano aktif menjadi podcaster
sejak tahun 2015 hingga saat ini. Sekarang
akunnya diikuti
12 ribu orang
di Soundcloud dan memiliki total 261 track, yang sekarang menduduki peringkat 35
dalam kategori Top Podcast dalam skala
nasional di Spotify.
Masih
banyak podcast yang dikelola individual/kelompok non-perusahaan media
yang terus mengembangkan podcast mereka. Hal ini menjadi bukti internet tidak
hanya menyelamatkan radio, tetapi juga memberi kebebasan semua kalangan untuk
menciptakan kontennya sendiri.
Potensi Podcast
Sekarang
Podcast
sebagai media audio yang memiliki karakter media radio, yaitu personal dan memiliki
nilai theatre of mind. Pendengar
radio akan
merasa dekat dengan apa yang disampaikan oleh penyiar secara akrab. Tidak adanya visualisasi konten dalam radio justru menjadi keunikan. Pendengar dapat
membayangkan apa yang diceritakan atau disampaikan oleh penyiar dengan imajinasi masing-masing, sehingga konten tidak
kaku dan fleksibel. Pemakanaan konten bergantung dengan apa yang pendengar
imajinasikan.
Hal
yang paling penting, internet bisa mengabadikan konten-konten radio. Di radio konvensional, konten yang telah disiarkan
tidak bisa diulang lagi sesuai keinginan pendengarnya. Dengan adanya Podcast,
pendengar bisa mengakses kapan
saja konten-konten tersebut.
Di Inggris, podcast
sudah melekat pada industri media seperti Radio BBC. Mereka memanfaatkan podcast untuk memudahkan akses
pendengarnya, sehingga khalayak dapat
menikmati konten kapanpun yang mereka mau.
Di Indonesia sendiri, sudah
ada yang memanfaatkan podcast untuk mendokumentasi beberapa programnya,
seperti yang dilakukan
RRI dan KBR.
Namun menurut penulis,
pemanfaatanya belum optimal.
Podcast masih harus terus dipopulerkan di Indonesia.
(Rega Adytia Doyosi)
0 Komentar