Meskipun “Kecut”, Hidup Harus Tetap Berjalan




“Langit adalah Atapku, matahari adalah selimutku, Trotoar adalah tempat tidurku, debu-debu adalah nafasku, jalanan adalah hidupku, dan anak-anak ini adalah masa depanku”

Yogyakarta. Barangkali itulah secarik syair deskripsi untuk menggambarkan perjuangan Sri Lestari, sosok perempuan penjual mainan balon udara, di kawasan Jalan Randugowang, Dusun Jatirejo, Desa Sendangdadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY.

Siang itu, Kamis 12 maret 2020 jalanan menuju Dusun Jatirejo panas terik oleh sengatan raja siang mentari yang tak pernah ramah disetiap musim kemarau. Hari itu pula sosok anak laki-laki munggil berbalut topi berlari-lari diatas trotoar tanpa alas kaki. Disampingnya terdapat aneka boneka plastik dengan jumlah tak seberapa, beserta seseorang yang tengah menggendong adek kecil dengan selendang batik lusuh nan kusam sembari memegang erat kumpulan beberapa balon udara.

Pemandangan ini membawa sepeda motorku untuk berbalik arah dan mendekati anak laki-laki bertopi berumur sekitar 4 tahun itu. Ternyata anak itu bersama ibundanya yang sedang duduk memegang erat balon sembari menggendong bayi perempuan dibalik selendang batik nan lusuh tersebut. Ibu tersebut terbangun dan membuka selendang penutupnya dengan senyum ramah yang menghiasi wajah sayu bergores luka dalam.

“Ibu, maaf kenapa berjualan ditempat yang sepanas ini dengan membawa anak-anak? Ngga ada atapnya lagi, Jualan apa bu?” tanyaku sembari mendekat

Setelah menyeka keringat yang menetes membasahi dahinya dengan selendang lusuh, Sri Lestari warga asli Kulon Progo menimpali pertanyaanku bahwa ini sudah biasa.

“ini sudah biasa mba, (sambil menunjuk anak laki-laki bertopi) sampai anak saya jadi item kaya gini”. Ujarnya sambil menunjuk anak laki-laki berlarian dibawah sengatan matahari yang menyeka jalanan sepi lalu lalang kendaraan.

Cukup lama juga kami mengobrol di pinggir jalanan dengan terpaan debu dan daun-daunan yang bertebaran, tak terasa keringat pun mulai menetes perlahan diantara punggung hingga bahu. Sri Lestari hanyalah sebuah potret kecil dari kehidupan jalanan di bangsa ini. Bangsa yang masih berusaha memerangi kemiskinan dibalik konflik dunia yang semakin memanas. Masih banyak lagi ‘Lestari-Lestari’ lain yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yang membutuhkan perhatian dari negara dan orang-orang yang nasibnya lebih baik darinya.

Meski miskin, akan tetapi Lestari tidak mengaku kepada negara bahwa dia tidak menjual kemiskinannya dengan meminta-minta kasihan dari orang lain. Setidaknya ia mempunyai suami yang bertanggungjawab penuh, walaupun hanya  bekerja sebagai penjual minuman pabrikan secara berkeliling.

Menjelang pagi Sri Lestari bersama kedua anaknya berangkat diantar suami untuk menjajakan dagangan balon udara dan boneka plastik, selepas sore tiba sang suami menjemput lagi, balik menuju rumah di kawasan Jalan Kabupaten wilayah Sleman.

Penghasilan yang dibawa pulang oleh Sri Lestari dan suami tidak menentu. Ia mengaku juga kadang dagangannya tidak laku sama sekali. Sedangkan sang suami sendiri hanya membawa uang sekitar kurang lebih 30ribu rupiah.

Ketika didesak, kenapa tidak berjualan lainnya yang lebih mapan, ia hanya menjawab dengan senyuman dan menjawab tidak punya modal.

“Ya.. gimana lagi mba, saya juga mau sebenarnya kalo mau jualan yang lainnya, tapi ya ngga ada modalnya. Saya pernah kerja jadi pembantu tapi saya ngga betah. Ya gini ajalah, yang penting bisa buat hidup”. Jelasnya

Setiap pekerjaan membutuhkan keiklasan dan kenyamanan, terkadang pengorbanan itu perlu. Begitupun dengan pekerjaan yang dijalani oleh Sri Lestari, meskipun dalam hati kecil perempuan berumur 48 tahun tidak tega mengajak kedua buah hatinya untuk berjualan di bawah terik sang matahari. Keadaan memaksa untuk menjalani kehidupan yang begitu pelik, ada harapan kecil untuk Rafli anak berumur 4 tahun yang kini mau tidak mau harus ikut berjualan. Sekolah adalah barang mahal yang ingin dicicipi oleh rafli, namun bagaikan sibungkuk menggapai bulan. Ekonomi yang tak mendukung membuat rafli harus ikut merasakan panasnya jalan aspal bersama adeknya.

Menyalahkan kehendak tuhan dan  nasib, pantang bagi Sri Lestari. Meskipun hidup serba kekurangan ibu beranak dua tersebut mengaku bahagia, asalkan bisa makan bersama dengan keluarga dan saling melengkapi sudah cukup.

Sri Lestari, hidup memang harus tetap berlanjut, meskipun terkadang kecut, tapi tuhan punya rencana lain untuk umatnya yang senantiasa bersabar dan menerima.

(Triyas Chusnul F)

Posting Komentar

0 Komentar