Kejujuran dan pertanggungjawaban dalam bermusik

Jujur pada karya, diri sendiri, dan rekan bermusik menjadi hal yang diperjuangkan Kopibasi. Kejujuran ini dituang dan ditempa dengan baik oleh Kopibasi dalam lirik-lirik yanga disematkan dalam irama Country Folk ala Skotlandia-Irlandia. Terbentuk sejak tahun 2013, Kopibasi aktif berproses dalam kegiatan-kegiatan komunitas Ngopinyastro. Kopibasi lebih sering mengiringi musikalisasi puisi dalam kegiatan Ngopinyastro dalam balut bossanova, sebelum akhirnya memilih Country Folk.

Seperti rumah dan sepasang kekasih yang menanti penantian panjang kelahiran buah hati, akhirnya Kopibasi melahirkan album debut yang berjudul Anak Pertama. Kelahiran ini tentu menjadi salah satu titik balik tersendiri bagi Kopibasi. Akhir tahun 2019 menjadi penanda bagi kelahiran Anak Pertama. Sekitar satu tahun sebelumnya, Kopibasi telah melakukan konser rehearsal pada tahun 2018 dengan membawakan beberapa materi Album tersebut.

Galih (vokalis) dan Mathor (perkusi) bercerita tentang album mereka. Selayaknya anak pertama, Galih merasa karya ini menyimpan harapan dari creator. Menurut Galih, produksi dilakukan secara habis-habisan di awal tahun 2018. Diakui oleh Galih dan Mathor, Album ini terbilang memiliki jarak yang lama dari terbentuknya Kopibasi. Bagi Galih, proses yang paling lama justru saat menentukan positioning dan sudut pandang suatu band. Galih dan Mathor percaya bila mereka gagal menempatkan diri saat menciptakan karya, maka karya itu tidak akan dapat menyentuh bagi mereka sebagai penikmat pertama karya mereka.

Lamanya proses ini bukanlah kendala. Bagi Galih, semua itu merupakan suatu proses yang melegakan dalam bermusik. Berkumpul, ngobrol, menempatkan rasa pada musik dan penulisan, membuat waktu tak menjadi beban. “Kopibasi itu soal lirik ketemunya di hal-hal remeh yang kadang kita lupa, kaya itu tadi tempe. Kan tempe bukan jadi pilihan pertama. Yang sebenernya kadang dilihat bukan topik yang menarik, tapi kita cari celahnya, titik ketemunya kami di situ”, Ucap Mathor kepada kami. “kaya tempe sendiri kan ada istilah “mental tempe”, ”mental krupuk”, padahal tempe secara historis memiliki nilai perjuangan. Tempe lahir ketika masyarakat yang punya kuasa membuang kedelai kualitas buruk. Dengan begitu masyarakat bawah punya resisten untuk terus makan” tambah Galih. Menjadikan Tempe sebagai judul lagu dengan lirik yang dalam tentu merupakan hal berani sekaligus unik, dan Kopibasi memilih judul tersebut dengan banyak pertimbangan.

Untuk proses kreatif, Galih menceritakan bahwasannya setiap personil di Kopibasi diwajibkan untuk presentasi materi. Bagi Galih, Ngopinyastro memiliki pengaruh terhadap bagaimana cara mereka berkarya. “Sangat berpengaruh ya di lirik-liriknya, kita masuk di ngopinyastro kan, kita merasa bertanggung jawab untuk membaca dan berbagi. Kadang ada kerinduan memulai membaca lagi. Terlepas kami ada di kopinyastro dan beberapa dari jurusan sastra. Kami pikir ternyata itu adalah sebagian kecil dari yang kita baca. Aku ga tau apa yang dibaca Ugoran Prasad dan Farid FSTVLST, untuk bisa membuat karya seperti itu.” Jelas Galih.

“Aku merasa kita kan udah melewati banyak zaman. Kita udah melepaskan romantisme yang meliuk-meliuk, tapi kita akan jatuh pada kekalahan bahwa kita ga akan bisa menang atas romantisme. Kamu akan jauh kaya apa, rebel kaya apa, kamu akan menemukan romantisme. Rebelmu itu pun, berpindah dari satu ke lain kondisi, kamu akan menemukan romantisme, kerinduan dari kerebelanmu itu. Juga ketika kamu lahir, kamu menemukan jalan hidup yang panjang, kamu berontak, kamu udah penuh coretan, wis ra nggenah, tapi kamu akan jatuh pada keluarga. Kekangenan itu akan datang. Akan ada romantisme di situ, dan kamu akan kalah di situ. Aku kira mereka sedang merayakan sebagai seorang anak, sebagai anak zaman, mewarnai zamannya. Itupun romantik menurutku.” Jawab Galih ketika ditanya soal tema Keluarga dalam albumnya yang kami bandingkan dengan tema-tema memberontak atas norma-norma keluarga.

Saat ditanya mengenai genre folk kopi-senja yang sering menjadi olok-olokan oleh warganet, Galih tak ambil pusing. “Folk di sini sama di Amerika aja dah beda. Ya stereotype folk di linimasa gitu, folk yang senja-senja, romansa-romansa, senja-kopi. Pada akhirnya menurutku gapapa dalam arti orang bisa menciptakan itu tanpa folk juga. Silahkan. Yang jadi masalah ketika orang menghindari kata-kata atau mengharuskan kata-kata. Folk harus kopi atau jangan kopi, jangan senja. Yang paling disayangkan, ketika orang menghindari senja bahkan ga cuma di folk. Kata senja maknanya jadi klise banget. Padahal kalo kamu bisa meramunya dengan jujur, senja bisa jadi apapun. Kita bisa mengolok-olok senja dan segala macem. Yang disayangkan jangan sampai menghindari atau mengharuskan. Menurutku, kamu gabisa menguasai kata-kata. Dia kaya di suatu ruang yang kamu bisa melihat, menjamah, duduk bareng, tinggal di hutan penuh semangat, yang menyerumu ke sana, tapi kamu ga bisa bawa balik itu. Jadi ga ada yang diharuskan dan perlu dihindari”, Jelas Galih. “kita tuh terbebani dengan apa yang popular di linimasa. Kita mencoba untuk apa yang kita bikin selalu bisa dipertanggungjawabkan. Aku bikin lirik sama Mathor, aku tanya Mathor ngerti ga liriknya. Aku juga harus bisa mempertanggungjawabkan liriknya. Semua personil kopibasi bisa mepertanggungjawabkan liriknya”, tambah Galih saat ditanya tentang sikap Kopibasi pada trend folk yang ada.

Galih berharap, Kopibasi dapat bertanggung jawab menjajaki ruang selanjutnya setelah album pertama. “Bertanggung jawab kepada masing-masing dari kami juga, baik secara moral, secara finansial bahkan. Kedepannya kami selalu ingin setiap tahun menciptakan album. Entah dalam artian proses penciptaan album atau rilis album. Kami ingin selalu hadir untuk temen-temen yang selalu mendukung Kopibasi. Ya kami sebagai seorang musisi ya pengen didengar. Cuma untuk didengar banyak pihak ada yang harus mendukung”, tambahnya. Galih berharap awak media, stakeholder kegiatan panggung-panggung seni, terkhusus di jogja mendukung kehadiran mereka.

Mathor menambahkan tentang bagaimana ia berharap Kopibasi dapat menjadi rumah yang selayaknya, menjadi tempat pulang, menjadi orang tua, melihat anaknya bertemu jodoh dan melepas keromantisan itu. “aku tak ndelok lah” tutupnya. (Rega Aditya D).

Posting Komentar

0 Komentar