YOGYAKARTA - Seorang pria berkumis tebal mengenakan kaos polo dan bercelana pendek dengan keringat yang mengucur di dahinya terlihat sedang melakukan pekerjaannya menimbang kerupuk yang nantinya akan digoreng dan dijual di pabriknya, tepatnya di Nyamplung Lor, Balecatur, Gamping, Sleman, lebih tepatnya di pabrik kerupuk miliknya sendiri.
Setiap hari tak kenal lelah melakukan pekerjaan yang ditekuninya, mulai dari membuat bumbu hingga menjualnya ke pedagang di pasar. Pria ini bernama Yahya. Sekilas nama tersebut sangat simple. Hanya saja, perjuangan Yahya dalam menghidupi beliau dan keluarganya tak se-simple namanya. Pria yang saat ini akan memasuki usia 54 tahun ini selalu sabar dan seorang yang pekerja keras dalam bekerja. Tidak hanya itu, beliau juga sesosok kepala keluarga dan ayah yang sangat penyayang meskipun terkesan galak dan tegas.
Sebelum memiliki pabrik sendiri Pak Yahya pernah mengalami asam manis dari sebuah perjuangan yang dilalui. Beliau merintih usaha kerupuk benar-benar bermula dari nol.
“Pertama-tama karna saya gak punya keahlian, cuman kerupuk ikut dengan orang lain, gak ada kerjaan lain selain kerupuk. Terus saya mempelajari ikut orang, gimana caranya proses pembuatan sampai pemasaran, terus setelah itu di peraktekkan.” ujar Yahya saat menceritakan awal mula masuk ke dunia bisnis menjual kerupuk.
Dengan bermodalkan pengalaman yang didapat selama beliau bekerja di salah satu pabrik kerupuk di Yogyakarta dan financial yang dirasa cukup membangun sebuah pabrik sendiri. Keluar dari pekerjaan di pabrik sebelumnya dan mulai mencari kontrakan tempat dan rumah, membeli bahan-bahan keperluan pabrik, serta menjual sendiri kerupuk tersebut dengan berjualan keliling menggunakan sepeda dan gerobak.
Bermula dari situ, Pak Yahya menekuni profesinya menjadi wiraswasta(pengusaha kerupuk) di sebuah bangunan kontrakan di wilayah Kutoarjo. Lika-liku kehidupan di Kutoarjo Pak Yahya lalui bersama istri dan anaknya. Satu tahun berlalu mempertaruhkan kehidupannya di Kutoarjo melihat mangsa pasar yang cenderung kurang, akhirnya membuat Pak Yahya kembali lagi ke Yogyakarta di tempat awal beliau belajar usaha kerupuk.
“Satu tahun berjalan belum kelihatan hasilnya, terus modal yang ada kena krismon(krisis moneter) gak bisa beli bahan, terus setelah pikir-pikir karna eeee.. apa ya.. perkembanngannya kurang pesat, terus dibawa lagi ke Jogja, dulu pertama berangkatnya dari Jogja.” tutur Pak Yahya.
“Dengan modal pas-pasan dari Kutoarjo ke Jogja, mulai dari nol lagi, kontrak tempat sama rumah lagi, bikin .. cari langganan lagi door to door. Terus setelah jalan dikasihkan orang lagi dan begitu seterusnya sampai punya 5 orang yang keliling, baru diem di rumah dan lanjut order ke pasar-pasar.. itu udah..” jelasnya lagi.
Tetap bertahan dengan 5 orang pegawai keliling dan langganan pasar, hingga saat ini Pak Yahya masih bekerja keras demi menyambung kehidupannya dan keluarganya. Berkat kesabaran, kerja keras dan kegigihannya dalam usaha kerupuk ini, Pak Yahya dapat membangun rumah sendiri, dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, serta dapat menyekolahkan anak-anaknya bahkan hingga ke bangku perkuliahan. Beliau jugas sering mengajarkan nilai-nilai positif kepada anak-anaknya.
“setiap uang atau rezeki yang didapat, sisihkanlah untuk sedekah dan menabung.”pungkasnya. (Sisi Lisya J.)


0 Komentar