Kearifan Lokal : Menjaga Alam Versi Nelayan Ngrenehan

Suasana Pantai Ngrenehan saat hari pantangan melaut

Pantai Ngrenehan, dari Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Merupakan pantai yang tidak terlalu luas, hanya sekitar 100 m2. Pantai ini diapit oleh dua bukit karang yang cukup besar, membuat ombak tidak secara langsung menghempas ke pantai. 

Sumber penghasilan yang amat disayangi sekaligus bagian hidup yang tak terpisahkan, kiranya inilah arti Ngrenehan bagi masyarakat setempat. Sebagai pantai nelayan, pantai ini dipenuhi oleh aktivitas kegiatan nelayan hingga penjual yang menjual berbagai hasil tangkapan laut dan makanan siap saji. Aktivitas inilah yang akan menyapa setiap kali mengunjungi destinasi wisata ini. 

Tidak hanya bersih, berdasarkan laporan produksi perikanan tangkap laut Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul, hasil tangkapan nelayan di Pantai Ngrenehan cenderung stabil setiap tahunnya. Usut punya usut, kearifan lokal adalah salah satu kuncinya.

Singgah di warung kecil milik salah satu nelayan disana, cukup bersejarah rupanya. Semenjak berdirinya puluhan tahun yang lalu, ia menjadi saksi bisu bagaimana Ngrenehan terjaga dari generasi ke generasi. Nelayan setiap harinya singgah disini untuk mengisi tenaga sebelum melaut, atau melepas lelah sepulang melaut. "Selasa Kliwon Mba, pantainya sepi," ujar salah satu nelayan membuka cerita mengenai tradisi luhur di Pantai Ngrenehan yang masih dipegang erat. 

Masyarakat meyakini, Selasa dan Jumat kliwon adalah hari pantangan bagi nelayan setempat untuk melaut. Tidak ada aturan baku rupanya, namun hal ini sudah menjadi kepercayaan turun temurun dan selalu ditekankan oleh pemimpin adat setempat. Satu hal yang mereka yakini, Selasa dan Jumat Kliwon adalah hari sakral sehingga pantang untuk menjemput nafkah di waktu tersebut. Bagaimana jika melanggar? diyakini akan terjadi musibah bagi si pelanggar, seperti kapal yang terbalik ketika melaut. Persis seperti kejadian beberapa tahun silam. Mengisi hari libur, nelayan biasa berkumpul untuk saling bercengkrama dengan sesama, sembari 'ubek' membenahi jaring agar siap digunakan esok hari. 

Sangat menghormati sumber pangan, nelayan punya tradisi sendiri untuk menyambut kapal baru. Semacam hadiah ucapan selamat datang untuk si kapal, katanya. Dengan harapan, “si kapal” akan menjadi teman yang baik untuk melaut. Setiap satu sura, warga juga memiliki tradisi larungan. Biasanya diikuti oleh berbagai acara lain seperti wayangan hingga bersih pantai sebagai wujud rasa syukur. 

Senada dengan ungkapan pengurus desa dan dinas kelautan setempat. Rupanya tradisi warga itu sudah bukan rahasia umum lagi. Meneguhkan hal itu, Dinas Kelautan dan Perikanan setempat menegaskan bahwasanya nelayan Ngrenehan sangat taat aturan. "Gak pernah neko neko, nelayannya juga gampang diatur", ujar perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan yang kami temui. Nelayan masih menggunakan cara tradisional untuk menangkap ikan. Nelayan juga "manut" setiap kali ada instruksi dari dinas, serta rutin menghadiri acara penyuluhan yang diselenggarakan.

Memang belum ada penelitian resmi yang mampu menjelaskan korelasi antara tradisi setempat dengan kelestarian lingkungan. Namun adanya hari kosong untuk nelayan tidak melaut setidaknya dapat memberikan waktu bagi biota laut untuk istirahat sejenak. Ditambah nelayan yang masih menggunakan cara konvensional dan taat aturan. Maka tak heran jika hasil tangkapan ikan tak pernah mengecewakan dan kondisi alam tetap terjaga.

Indonesia memiliki berbagai kearifan lokal yang lahir dari suatu masyarakat, dipelihara oleh masyarakat itu sendiri, dan mengatur harmonisasi kehidupan baik antar manusia maupun manusia dengan alam. Diluar kepercayaan kearifan lokal yang diyakini masyarakat setempat, disadari atau tidak, adanya kepercayaan ini menunjukkan kebersamaan nan mencintai lingkungan. Inilah cara menjaga lingkungam versi nelayan Ngrenehan. Mari ciptakan lingkungan yang tetap baik untuk saya, kamu, dan kita semua.

(Annisa Putri)

Posting Komentar

0 Komentar