![]() |
| Gambar. Warung burjo Berkah, Pogung Rejo |
Yogyakarta adalah salahsatu kota yang tidak terlewat dari list kota yang harus dikunjungi, karena banyak sekali daya Tarik yang dihasilkan oleh kata ini. Dikenal dengan sebutan kota pelajar ternyata jogja masih menyimpan banyak hal yang menarik dan patut untuk diketahui dari mulai budaya, wisata sampai kepada ragam kulinernya. Oleh karena itu banyak sekali yang datang ke jogja untuk sekedar mengisi waktu kosong, liburan, mencari ilmu dan bahkan menetap untuk kemudian menjadi orang jogja itu sendiri.
Berbicara soal kuliner, ada salah satu yang menarik dari kota ini, memang bukan tempat dengan nilai histori tinggi atau penyedia menu special seperti Italian, Europe, Chinese atau seafood. Hanya warunf makan biasa yang sering dikunjungi oleh para mahasiswa dan masyarakat lainnya. Nama tempat itu adalah “burjo“ atau bubur kacang ijo. Tidak seperti namanya, ternyata warung tersebut bukan penyedia bubur kacang ijo atau sejenis bubur lainnya, melainkan rumah makan biasa dengan menu sederhana dan harga yang ramah di kantong celana. “ramah dikantong celana” seperti itulah kira kira kalimat yang disematkan kepada burjo ini, sehingga kemudian banyak mahasiswa atau khususnya perantau yang menjadi pelanggan dari burjo ini. Warubg makan ini bukan perusahaan besar yang berdiri sendiri tanpa lawan, bukan pula yang memiliki banyak cabang dan menginduk pada satu perusahaan besar di Jogjakarta, namun mereka ada, menjamur dan berdiri sendiri. Burjo banyak sekali tersebar di daerah Yogyakarta, hampir seperti angkringan, disetiap sudut selalu ada burjo. Kemudian fakta lain dari burjo tersebut adalah, penjaga atau pegawai dari burjo burjo itu bukanlah orang pribumi melainkan orang orang yang berasal dari jawa barat. Dengan burjo burjo ini adalah orang dari suku sunda yang merantau ke Yogyakarta.
Bagi para mahasiswa yang menjalani studynya di jogja, rasanya mustahil ika tidak mengetahui burjo, karena seperti yang telah disebutkan, burjo itu tersebar ke berbagai daerah di Yogyakarta. “a, nastel satu” atau “a, mie tante satu” adalah kalimat sering muncul ketika berada diburjo. Menu yang banyak tersedia di berbagai burjo, nasi telur dan mie tanpa telor dan aa atau teteh sebagai orang melayani di burjo ini menjadi ciri khas tersendiri bagi burjo. Harga menu makanan menu di burjo bisa dibilang murah berkisar dari 5k sampai 15k, memang mahal dan murah itu relatif dan kembali kepada masing masing pribadi, namun kenyataannya dengan nilai harga berikut membantu stigma yang berkembang bahwa memang biaya makan di jogja lebih rendah daripada kota besar seperti Jakarta dan lainya.
Asep, salah satu pemilik burjo di daerah pogung rejo Yogyakarta asal kuningan mengatakan, bisnis burjo ini lumayan menghidupi karena segmentasinya pasarnya dikotakkan kepada para mahasiswa dan perantau, khususnya yang sama sama berasal dari jawa barat, jadi ada perasaan pulang saat berkunjung karena ada persamaan latar budaya, selain itu memang juga banyak yang dari kampung halamanya yang datang ke jogja terus mendirikan burjo disini, sebagai pemilik ataupun sebagai pegawai. Alasan pemilihan asep menetap di pogung juga karena selain dekat dengan salah satu kampus di Yogyakarta, karena disana juga banyak yang menyediakan kos kosan untuk mahasiswa, jadi membuka burjo disana adalah alasan yang bagus selain tempat yang strategis.
(Gilang Darmawan)

0 Komentar