![]() |
| Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. Sumber: www.hipwee.com |
Hiruk pikuk Covid-19 ternyata mulai terasa di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Terlebih dengan keluarnya surat instruksi rektor beberapa waktu lalu sempat membuatku mengerutkan dahi. “Ahh balada apa lagi ini”. Lucu rasanya akan melewati masa perkuliahan tanpa tatap muka dan penundaan beberapa program kerja dari ormawa. Namun, hal itu bukanlah masalah hanya saja perlu adanya pembiasaan.
Wabah yang muncul dari Negeri Tirai Bambu pada akhir 2019 lalu semakin meluas ke berbagai penjuru dunia. Asia yang menjadi pusat persebarannya kini telah sampailah ke Amerika, Eropa dan sekitarnya. Hampir-hampir seluruh wilayah bumi ini didatangi SARS-CoV-2. Manusia tidak bisa tutup telinga begitu saja. Mata terlanjur terbelalak melihat keramaian dunia hari ini. Ya memang, sudah semestinya kita perlu waspada dan bersikap tegas dalam menjaga tubuh agar virus tersebut tidak mampir dan membiarkannya berlalu saja.
Awal Maret menjadi awal yang membuatku menggigit jari mendengar presiden mengumumkan pasien positif corona pertama di Indonesia. Seorang ibu dan anak yang seharusnya dirahasiakan identitasnya terlanjur diketahui massa dan khawatir akan persebaran selanjutnya. Ketika virus masuk ke Indonesia, itu artinya potensi penyebarannya semakin dekat. Namun, perlu menjadi pemahaman bersama di Wuhan contohnya, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh jauh lebih besar dibandingkan jumlah kematian yang terjadi. Aku turut lega mendengarnya. Sepemikiranku seperti itulah yang kurang lebih akan terjadi di Indonesia. Intinya, waspada dan jaga pola hidup sehat seperti mencuci tangan, melakukan olahraga pagi, menghirup udara segar, dan melakukan aktivitas kebugaran jasmani lainnya.
Alih-alih virus corona ternyata membawa dampak yang cukup membuat kepala pusing. Diawali oleh titah sang menteri hingga turun sampai ke birokrasi kampus. Para civitas akademika senantiasa menanti keputusan dari hasil rapat petinggi kampus pada saat itu. Hingga akhirnya dikeluarkanlah Surat Instruksi Rektor dan diikuti oleh Surat Pemberitahuan Penundaan Kegiatan Kemahasiswaan.
Yang pertama tentang Intruksi Rektor. Terdapat tujuh poin yang tertuliskan diatas kertas putih itu. Mulai tanggal 16 Maret-30 April 2020 perkuliahan baik jenjang Diploma, S1, S2, maupun S3 dilaksanakan secara daring. Bayangan pertama yang terlintas dipikirku waktu itu sungguh abstrak. Menilik pembelajaran online melalui BeSmart saja yang intensitasnya jarang masih belum bisa sepenuhnya menggantikan pertemuan tatap muka. Apa jadinya jika hendak melakukan presentasi? Efektif dan efisienkah? Entahlah mungkin lebih baik mari kita renungkan bersama dulu.
Berbagai sisi mulai kutelusur satu per satu. Dari sudut pandang dosen, terlebih bapak ibu dosen senior, beliau-beliau ini harus mengeluarkan pemikiran ekstra dalam menghadapi perkuliahan online. Mengapa demikian? Tentu saja masing-masing dari beliau harus mempelajari bagaimana menggunakan teknologi yang akan digunakan sebagai media pembelajaran jarak jauh. Selanjutnya dari sudut pandang mahasiswa, tidak cukup masalah memang dengan metode pembelajaran jarak jauh ini. Namun, ditambahnya pengumuman tentang tutupnya pelayanan kampus seperti perpustakaan cukup membuat masalah bagi kalangan mahasiswa. Kuliah online artinya membutuhkan koneksi internet bukan? Bagaimana dengan mahasiswa yang mempunyai akses internet terbatas? Akankah ada subsidi paket data internet misalnya? Belum tentu juga hal tersebut dihiraukan.
Yang kedua, Surat Pemberitahuan Penundaan Kegiatan Kemahasiswaan. Sebelum surat ‘sakti’ tersebut sampai di tangan para pengurus ormawa, akupun berdiskusi dengan para pengurus lain dan menanyakan kebingungan ini kepada bapak Staff Ahli Bidang Kemahasiswaan. “Aktivitas ormawa yang berbasis kerumunan orang banyak ditunda dulu”, jawabnya. Sedikit mengejutkan mendengar perkataan beliau. “Tapi, untuk persiapan lomba yang pelaksanannya diatas tanggal 30 April 2020 masih boleh berlangsung”, begitu pungkasnya. Kamipun diminta menunggu sampai surat edaran resminya keluar karena waktu itu kebetulan weekend. Sebagai aktivis organisasi kampus tentunya ketar-ketir membaca edaran dari birokrasi yang juga melakukan penundaan kegiatan-kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa.
Terlintas untuk yang kesekian kalinya, “jadi begini suasana ormawa yang sunyi tanpa program kerja”, tidak masalah. Anggap saja bernapas sejenak, pikirku. Namun, bukankah beberapa program kerja bisa dilakukan secara daring? Diskusi-diskusi misalnya. Ya benar. Penundaan kegiatan yang mengundang kerumunan ternyata masih bisa dilakukan dengan catatan berpindahlah kerumunan tersebut ke sistem online. Hidup dalam realitas virtual mulai terlihat dalam situasi sekarang ini. Nikmati dan ambil sikap positif untuk setiap situasi.
(Kristina)

0 Komentar