Corona Merambah Jogja, Area Malioboro Tetap Jadi Tujuan Wisata


Virus Corona pertama terdeteksi di China pada akhir 2019 atau lebih tepatnya pada bulan September 2019. Sejak saat itu, virus corona kemudian dilaporkan banyak menginfeksi penduduk kota Wuhan, China yang pada akhirnya menyebar ke seluruh dunia dan dinyatakan sebagai pandemi global. Sebagai upaya pencegahan penularan virus corona agar tidak terus meluas, pemerintah China kemudian melakukan lockdown terhadap seluruh aktivitas di kota Wuhan, China.

Indonesia sendiri sejauh ini menjadi negara yang paling terakhir dikonfirmasikan terkena wabah virus corona. Pada bulan Februari 2020 lalu, seorang warga Indonesia dikonfirmasikan tertular virus tersebut. Berdasarkan informasi yang beredar, WNI yang tertular virus corona dikabarkan akibat melakukan kontak dengan teman korban yang merupakan warga negara Jepang. Informasi terbaru dari sebaran virus corona di Indonesia sudah mencapai sejumlah 134 orang yang dikonfirmasikan tertular virus corona oleh Kementrian Luar Negeri RI.

Banyaknya jumlah kasus penularan virus corona di Indonesia juga memaksa universitas-universitas di Yogyakarta untuk melalukan langkah pencegahan dengan mengalihkan aktivitas perkuliahan ke perkuliahan daring. Selain itu, beberapa daerah di Indonesia yang dikonfirmasikan menjadi sebaran virus corona ditetapkan status KLB Virus Corona seperti Solo, Banten dan DKI Jakarta. Hari minggu (15/3/2020), Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono mengonfirmasikan bahwa di daerahnya telah ditemukan satu orang positif terinfeksi corona, meski begitu Sultan belum menetapkan Yogyakarta sebagai daerah KLB Virus Corona.

Meskipun terdapat satu orang yang dikonfirmasikan terinveksi virus corona, tidak membuat antusias wisatawan di kota tersebut berkurang. Pada hari Minggu (15/3/2020), daerah sepanjang Malioboro hingga titik 0 Km Yogyakarta masih terlihat cukup banyak wisatawan yang berwisata di daerah tersebut. Wisatawan yang terlihat berada di Malioboro dan titik 0 Km Yogyakarta berasal dari berbagai daerah, bahkan terlihat pula beberapa rombongan wisatawan dari beberapa sekolah luar jogja dan beberapa rombongan keluarga yang berwisata.

Konfirmasi yang diberikan oleh Sri Sultan terkait warganya yang terinveksi corona tidaklah membuat warga Jogja dan wisatwan yang berkunjung ke Jogja merasa panik. Nazil, seorang wisatawaan asal Salatiga mengatakan ” Akses kendaraan darat dan laut juga dibatasi, jadi gak semua WNA itu juga kena virus itu. Memang kita sebagai wisatawan juga mengantisipasi adanya virus itu. Jadi gini Ya kenali dlu turis dari mana itu, jangan sampai kalau misal kita berbuat sesuatu yg membuat mereka tersinggung secara otomatis juga wisata dalam negeri dapat tercoreng hanya gara-gara masalah itu. Kan pemerintah juga sudah memberitahu bahwa jangan panik atas hal teraebut, sebagai warga yg baik ya tetap mereka di kasih peringatan itu sudah cukup, pastinya mereka ya sudah mengalami pemeriksaan sebelum masuk di Indonesia, kalau semisal belum yakin ya jaga diri saja, kenali virus tersebut, cara penularan dan pencegahannya seperti itu mungkin.

Berdasarkan penuturan Nazil sebagai sorang wisatawan, virus corona memang selayaknya harus diwaspadai, namun tidak dibenarkan jika bertindak gegabah dan panik akan hal tersebut. Kepanikan yang terjadi justru akan memperparah keadaan, bertindak waspada terhadap kemungkinan tertular akan jauh lebih baik daripada bertindak gegabah.

(M. Fajar Kurniawan)

Posting Komentar

0 Komentar