Cerita Psikolog Konseling Di Rutan

Zahara Nur Azizah (kanan) dan Nadiva Firdausi (kiri) saat menghadiri acara Sertijab Kepala Rutan Kelas II B Bantul, Rabu (22/1/2020). Pada kesempatan itu, mereka berdua menerima penghargaan dari Kantor Wilayah Kemenkumham Yogyakarta atas kontribusinya membawa Rutan Kelas II Bantul meraih predikat WBK.

Saat seseorang menjadi narapidana, tentu ada perasaan takut dan kecewa. Perasaan itu merasuk dalam-dalam menjadi beban pikiran. Banyak dari mereka yang memendam itu semua dalam diam. Ada pula yang bahkan tidak menyadari itu sebagai gangguan mental. “Paling cuma pusing”, pikir mereka. Zahara Nur Azizah khawatir rasa pusing itu dapat memicu stres dan depresi.

Sehari-hari, Zahara bekerja sebagai psikolog di Puskesmas Pajangan, Bantul. Sebuah panggilan khusus pun datang kepadanya. Soleh Joko Sutopo, Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Bantul memintanya menjadi konselor untuk para narapidana. Pada mulanya, Zahara tidak yakin dengan kemampuan yang ia miliki. Baru kali ini seorang psikolog masuk rutan. Namun, ia berpikir bahwa hanya ia yang bisa diandalkan di sana. Zahara merupakan satu-satunya psikolog yang bertugas di wilayah Pajangan.

Ia dibantu oleh Nadiva Firdausi, dokter di Puskesmas Pajangan yang juga ikut bertugas di Rutan Bantul. Mereka berkolaborasi dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk para narapidana. Termasuk kesehatan mental yang sering kali luput dari perhatian.

Bersama Nadiva, Zahara mengadakan terapi kelompok untuk narapidana baru. “Harapannya biar mereka bisa menjalani hari-hari dengan nyaman di rutan,” terangnya saat ditemui di acara Serah Terima Jabatan Kepala Rutan Kelas II B Bantul, Rabu (22/1/2020).

Seluruh narapidana di Rutan Bantul adalah laki-laki. Apalagi dengan segala stigma narapidana yang digambarkan: bertubuh besar, bertato, seram, dan sebagainya. Kondisi itu awalnya bikin Zahara ciut dan merasa tidak nyaman. “Saya di sana perempuan sendirian. Terus di depan itu ada 21 narapidana baru. Tatapan mereka kosong. Ada juga yang tatapannya gimana gitu sama saya. Ada juga yang ngobrol sendiri di belakang,” tutur Zahara tentang pengalaman pertamanya konseling di Rutan Bantul.

Sebagian materi yang disampaikan Zahara diakuinya terbilang cukup berat. Para narapidana, katanya, cukup sulit dikoordinir secara kelompok. “Mungkin karena waktu itu konselingnya siang ya, jadi banyak narapidana yang gak fokus,” ujarnya. Meski begitu, ia anggap hal itu sebagai tantangan. Ia terus mencari cara dan pendekatan yang tepat agar para narapidana mau memperhatikan materi yang diberikan.

Para narapidana datang dari latar belakang yang berbeda. Didakwa dengan kasus yang berbeda-beda. Ketika datang ke rutan, pikiran mereka belum sepenuhnya siap. Jadi wajar apabila mereka sedikit terguncang. Bisa jadi karena pengaruh lingkungan atau masalah personal. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak menyadari atau mengetahui cara penanganannya. Untuk itulah alasan Zahara ada di sana, yaitu memberikan kesadaran sekaligus membimbing narapidana memperoleh kesejahteraan mental.

“Ternyata ada seorang yang sudah mengalami gejala depresi berat,” tuturnya soal hasil pengamatan terhadap kesehatan mental narapidana. Ia melakukan pendekatan dan perawatan secara personal. Tujuannya agar para narapidana bisa terbuka tentang kondisi yang dialaminya. Jika Zahara tidak mendapat gambaran yang pasti, ia juga kesulitan menentukan diagnosa yang tepat.

Sebelum Zahara datang, hanya Nadiva yang bertugas sendirian di rutan. Itu pun hanya sebatas pemeriksaan fisik saja. Pendekatan psikologis yang dipakai Zahara ikut andil membantu Nadiva melakukan tugas sebagai dokter rutan.

Berkat kerja keras Zahara dan tentu saja dibantu oleh Nadiva, para narapidana merasa jauh lebih tenang dalam menjalani masa tahanan. Tidak lagi gelisah dan resah seperti saat awal mereka menjadi penghuni rutan. Beberapa narapidana pun sudah mulai mengenali mereka. Berangkat dari sebuah tanggungjawab, keberadaan Zahara justru mampu menghadirkan harapan di benak narapidana. “Sebagai perempuan, saya bisa menjalankan tugas ini. Intinya jangan jadi beban, yang penting tetep enjoy dalam bertugas,” katanya.

Sumbangsi Zahara selanjutnya membuahkan hasil yang lebih hebat. Rutan Kelas II B Bantul berhasil memperoleh predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) pada tahun 2019. Salah satu faktornya tentu saja keberadaan konseling psikologi di lingkungan rutan. Atas kontribusi tersebut, Zahara pun meraih penghargaan dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Yogyakarta. 

(Hery Setiawan).

Posting Komentar

0 Komentar