ANGKLUNG PERCUSSION BOLODHEWE, MUSISI TANPA TANDA JASA

Aksi personel Angklung Percussion Bolodhewe saat memainkan alat musik tradisional di Perempatan Lampu Merah Mirota Kampus Simanjuntak, Senin (16/3/2020).

Jogja Jogja tetap istimewa, istimewa negerinya istimewa orangnya~ Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan hanya statusnya saja yang istimewa, warganya pun tak kalah istimewa. Melembana dengan predikat Kota Seniman, seni seakan menjadi nama tengah Jogja. Seni hidup di setiap hembusan nafas, melebur menjadi satu dalam denyut nadi warganya. Nguri-uri kesenian tradisional berarti memelihara keistimewaan Jogja. Kreativitas warga Jogja dalam upaya pelestarian kesenian tradisional patut diacungi dua jempol. Salah satunya direalisasikan melalui aksi musisi jalanan yang tersebar di hampir seluruh sudut Jogja. Angklung Percussion Bolodhewe contohnya. Alih-alih memposisikan diri sebagai pengamen jalanan, Bolodhewe berusaha mempertegas positioning-nya sebagai kelompok musisi jalanan. 

Lonceng jam berdentang sebanyak 9 kali. Berlatar belakang hingar bingar kendaraan bermotor yang tak jarang ternoda oleh kemacetan, Angklung Percussion Bolodhewe memulai aksinya. Mengambil tempat di perempatan lampu merah Mirota Kampus Simanjuntak dari pukul 09.00-17.30 WIB, tepat sebelum Azan Magrib berkumandang. Sayup-sayup terdengar suara dari alat musik gambang, angklung, cello, bass dan tripok bersahut-sahutan. Harmonisasi apik yang dihasilkan pun menggugah rasa penasaran para pengendara yang sedang menunggu countdown lampu merah. Lantunan musik tradisional ibarat oase yang mengguyur rasa haus. Bukan hanya haus akan air minum, namun juga haus akan hiburan di tengah kebosanan yang melanda sembari menanti lampu hijau menyala.

Kelompok yang tergabung di bawah naungan Paguyuban Angklung Yogyakarta (PAY) ini diketuai oleh Wicaksana Anggara Putra (27). Mas Putra, begitu sapaan akrabnya. Ia menyuarakan gagasan terkait pembentukan Angklung Percussion Bolodhewe sejak 10 tahun silam, tepatnya pada tahun 2010. Yang namanya kelompok musik tentu membutuhkan personel. Formasi lengkapnya terdiri atas Irul yang menggesek cello, Riyan yang menabuh tripok, Gunawan yang menggoyangkan angklung, Bagas yang memukul gambang dan Fa’ang yang memetik bass. “Kalau untuk Jogja sendiri ada 15 grup, satu grupnya ada 6-7 orang yang main,” kata Putra, Senin (16/3/2020).

Dendangan musik yang sarat akan nuansa tradisional seolah menggoda para pendengar untuk ikut bernyanyi dan berjoget ria. Tidak sebatas hanya lagu hits yang tengah digandrungi kawula muda saja, Bolodhewe pun tak mau ketinggalan unjuk bakat dalam memainkan lagu tradisional yang dikemas dalam aransemen musik dangdut. “Dangdut koplo, dangdut pop, campursari pun kami jabani atau mau request kaya di radio juga boleh,” kelakar Putra sembari menenteng ember berisi lembaran rupiah. “Mundur Alon-Alon” menjadi lagu primadona yang tak pernah absen disuguhkan. Pastinya sobat ambyar sudah tidak asing lagi kan dengan lagu yang satu ini?

“Lumayan buat hiburan, sering Saya ngga tau lagu apa itu tapi gara-gara enak didengar jadi sampe searching di Google,” ungkap Bagas, seorang pengendara motor. Tak ayal, para pengendara yang merasa terhibur dengan sukarela menyisihkan sebagian rezeki mereka sebagai bentuk apresiasi. Bolodhewe menerapkan sistem jemput bola dimana salah satu personel bertugas mengedarkan ember dari satu pengendara ke pengendara yang lain. Tak perlu khawatir, tarikan bersifat sukarela dan tidak ada paksaan sama sekali. Menyawer boleh, tidak pun juga tidak apa-apa,  

Bak sihir Ibu Peri Cinderella, kepiawaian jari jemari para musisi menyulap alat musik tradisional yang tadinya hanya seonggok benda mati menjadi pemantik yang menghidupkan suasana khas Jogja. Musisi yang tergabung dalam Kelompok Bolodhewe pun tidak sembarangan direkrut. “Masing-masing dari kami sudah punya basic bermusik, selain itu kami juga memperdalam bakat bermusik supaya lebih mahir di PAY,” terang Putra. 

Putra CS bukanlah militan pemburu rupiah. Putra menegaskan bahwa selain berniat untuk menghibur mereka yang sedang berkendara, Bolodhewe mengemban misi mulia yaitu turut membantu pelestarian budaya Jawa terkhusus musik tradisional.

Bermusik di jalanan sebagai sarana ekspresi dan aktualisasi diri. Sebagai kelompok yang berkecimpung cukup lama di belantika musik jalanan, suka duka mewarnai perjalanan karier Bolodhewe. “Sukanya ya kerjanya santai, ngga merasa ada tuntutan karena ya gimana sih ya? Udah hobi dan passion kami disini. Nah, kalo dukanya paling faktor cuaca yang di luar kendali kita. Kalau panas ya kepanasan, kalau hujan ya kehujanan,” ujar Putra yang diangguki rekan-rekannya.

Khawatir akan perangai kawula muda yang cenderung acuh tak acuh akan kelestarian kesenian tradisional, Putra CS berpesan kepada anak-anak muda sebagai pewaris budaya nenek moyang, tak terkecuali mahasiswa perantauan supaya mulai belajar mengenal kesenian tradisional. Tak lupa Putra memanjatkan secarik harapan supaya ke depannya musik tradisional selalu dikenang dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia sampai ke mancanegara. Harapan ini pun diamini oleh rekan-rekannya. 

Sejauh ini, bentuk apresiasi dari Pemda DIY, Satpol PP dan dinas-dinas terkait seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan hanya sebatas pemberian izin saja. Kendati demikian, Putra mengaku sangat bersyukur atas dukungan yang dikantonginya. Padahal, perlu digarisbawahi bahwa musisi jalanan turut berjasa dalam upaya pelestarian musik tradisional. Sebagai penutup, alangkah lebih bijaknya apabila pemerintah dan warga masyarakat saling bahu membahu menyampaikan apresiasi yang sepadan kepada mereka, musisi tanpa tanda jasa.

(Salma Yasmin R)

Posting Komentar

0 Komentar