Warga TPST Desak Pemprov Lakukan Perbaikan

Seorang pengemudi motor berhati-hati saat melintasi jalan rusak di wilayah TPST Piyungan (Foto: Hery Setiawan)


BANTUL – Paguyuban Warga Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan mendesak Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) segera melakukan penataan ulang. Mulai dari perbaikan jalan menuju TPST, pembangunan drainase, serta pembangunan dermaga. Selama ini, Pemprov DIY dianggap kurang memperhatikan perawatan fasilitas TPST Piyungan. Akibatnya, proses pembuangan sampah hingga hari ini sampai mengganggu aktivitas warga setempat.

Maryono, selaku ketua paguyuban dan juru bicara warga memaparkan kondisi terkini TPST Piyungan. Truk-truk yang hilir mudik dan mengantri giliran jelas mengganggu aktivitas masyarakat. Hal itu disebabkan karena dermaga milik swasta yang terletak tepat di pinggir jalan. Idealnya, kata Maryono, dermaga seharusnya berada di 200 meter masuk ke dalam area penimbunan sampah. “Kami sudah mengusulkan supaya semuanya dikelola dengan baik, termasuk dibuatkan dermaga 200 meter ke dalam biar tidak menganggu akses keluar masuk masyarakat,” katanya.

Selain dermaga, akses jalan menuju dermaga TPST juga rusak parah dan berlubang, terutama di wilayah Sentulrejo, Desa Bawuran, Kecamatan Pleret. Kondisi akan kian memburuk saat turun hujan. Jalan menjadi licin dan berlumpur. Padahal, warga telah mengajukan perbaikan sejak tahun lalu. Akan tetapi belum ada respon nyata dari Pemprov. “Anak sekolah yang seharusnya lewat situ harus memutar, karena takut becek, baju kotor, dan sebagainya,” kata Maryono saat ditemui Harian Jogja, Selasa (11/2).

Tak berhenti di situ saja. Maryono juga menyayangkan sikap Pemprov yang tidak lagi melakukan pengasapan di lokasi TPST. Akibatnya, nyamuk dan lalat pun berterbangan bebas menghinggapi warga setiap saat. Padahal, dalam perjanjian dengan Pemprov, setiap RT dijanjikan mendapat jatah pengasapan. “Teorinya seperti itu. Prakteknya, hanya berjalan satu atau dua putaran setelah itu tidak ada lagi sejak satu tahun yang lalu,” katanya.

Rusaknya drainase akibat lalu lintas alat berat menambah buruk kondisi TPST Piyungan terkini. Sejatinya, drainase sendiri punya fungsi vital, yakni sebagai penghalau air hujan untuk dialirkan ke talud. Jika drainase dibiarkan rusak, air hujan akan mengalir bebas dan tertahan di tebing.

Pemprov DIY sendiri kabarnya telah menyiapkan dana sebesar Rp14 Miliar untuk melakukan penataan TPST Piyungan, mulai dari pembangunan talud, terasering, dan dermaga. Hal itu menyusul rencana Pemprov DIY, sebagai pengelola memperpanjang pemakaian TPST Piyungan sebagai lokasi pembuangan sampah utama hingga dua tahun mendatang. Hanya saja, itu perlu menunggu kepastian Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Ketika disinggung soal dermaga permanen, Sutarto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY mengatakan bahwa itu hanya untuk truk-truk milik pemerintah. Dia memastikan lalu lintasnya tetap lancar, tanpa kemacetan. Sementara dermaga yang berada di pinggir jalan dekat pintu masuk adalah milik swasta. Kemacetan yag terjadi kemarin, menurutnya, terjadi karena truk yang merapat di dermaga swasta bukan tipe dump truck. “Kalo yang pemerintah tetap lancar, langsung buang selesai. Kalo yang swasta itu kan, mohon maaf, kendaraannya kecil-kecil, jadi harus dibantu untuk menurunkan sampah,” kata Sutarto. (Hery Setiawan).

Posting Komentar

0 Komentar