Beragam panganan kekinian yang beredar saat ini, tak membuat beberapa jajanan legendaris zaman dulu hilang seketika, salah satunya yaitu es jadul. Meskipun popularitasnya tak seterkenal dahulu, namun jajanan es jadul tetap menggoda selera dan mendapatkan tempat tersendiri bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Kuliner tradisional ini tak pernah gagal menarik perhatian penggemar setianya untuk bernostalgia mengulang memori masa kecil.
Mbah Jumiyo sudah berjualan es jadul sejak tahun 70-an, di usianya yang senja ini, ia masih terus mengayuh sepeda berisi bakulan termos es diatasnya untuk mendapatkan rupiah. Meskipun sederhana, mbah Jumiyo memiliki semangat dan keinginan untuk berjualan atas kemauan sendiri, agar tak menjadi seorang pengangguran. Dan benar saja, mbah Jumiyo tetap konsisten berjualan es jadul buatannya bersama istri hingga hari ini.
“Bikinnya pagi-pagi, istri saya yang buat, tapi yo kalo belum selesai ya saya ikut buat, istri saya pagi jualan sayur keliling, jadi sebelum dia jualan ya bantu buat es dulu” jelas Mbah Jumiyo.
Es jadul mbah Jumiyo terbuat dari adonan tepung kanji, perisa buah serta gula pasir. Adonan tersebut akan diaduk dan dimasak bersama dengan air mendidih lalu dicetak sesuai bentuk dan didinginkan. Es jadul ini disajikan menggunakan stik dan dibalut dengan plastik bening. Mbah Jumiyo membawa 6 termos berisi 180 es jadul setiap harinya dan memiliki aneka rasa seperti coklat, durian, buah naga dan alpukat. Es jadul mbah Jumiyo memiliki tektur lembut menyerupai es gabus dengan rasa yang manis dan gurih, es ini dibanderol dengan harga yang terjangkau yakni Rp. 2.500 per potong.
“Jam 8 malam sudah habis, tapi kalau sepi habisnya jam 10 ya jam 10 pulangnya dan kalau hujan biasanya nggak habis” ujar mbah Jumiyo.
Untuk menemukan lokasi berjualan es jadul mbah Jumiyo ternyata cukup mudah, ia setiap harinya berjualan di Alun-alun Kidul (Alkid) sekitar pukul 18.00 sampai habis. Mbah Jumiyo berangkat dari kediamannya di Tegal Urung, RT 02, Gilangharjo, Pandak, Bantul pukul 15.00, dikarenakan jarak tempuh yang jauh dan memakan waktu yang lama. Walaupun pada awalnya, mbah Jumiyo menjajakan es jadul hanya sekitaran kampungnya, namun sekarang ia lebih memilih berjualan di (Alkid) karena ia bisa bercanda dengan banyak orang, dengan usia yang tak lagi muda, Mbah Jumiyo ingin memmberikan contoh bagi anak-anak muda agar selalu semangat bekerja.
(Erina Meliani)

0 Komentar