Jogja Bukan untuk Semua


Khusnu Tsawab nama yang akrab di telinga saya. Tentu saja, dia adalah teman yang rasanya selalu bersama saya. Tsawab adalah pria kelahiran Boyolali dan meski begitu dia adalah seorang anak yang besar dan tumbuh di lingkungan yang berbeda. Sejak menginjak usia tujuh tahun orang tua Tsawab memutuskan untuk menyekolahkan dia di sebuah pesantren. Pesantren itu adalah Ma'had Al-Zaytun yang membentuknya menjadi dia yang sekarang. Ma’had Al-Zaytun adalah pesantren yang sangat besar dan juga santrinya hadir dari beragam daerah. Mungkin terdengar aneh tapi saya dan Tsawab sudah sering bersama sejak bersekolah di sana, bahkan kini di Jogja kami satu kampus di Universitas Negeri Yogyakarta.

Di Jogja Tsawab dikenal sebagai salah satu atlet hockey terbaik. Dia selalu mampu untuk menembus bursa pemain di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk berlaga di tingkat nasional. Nyentrik, idealis, keras, dan tentu saja ambisius adalah bagaimana rekan setim Tsawab di Kota Jogja menggambarkan dirinya. Sekilas tampak wajar tapi sebagai teman dan rekan satu tim sejak SD hingga sekarang mewakili Kota Jogja saya paham betul datang dari mana sikapnya yang ambisius itu. Semasa bersekolah di Zaytun (sebutan akrab untuk Pesantren Ma'had Al-Zaytun) dia bukanlah pemain yang sering menjadi pilihan utama namun dia adalah pekerja keras yang baik. “Kan elu juga tau, gue itu selalu ingin membuktikan kalo gue bisa” jawab Tsawab ketika kami mengobrol di sebuah Cafe semi terbuka di dekat kos saya, tempat yang bagus untuk obrolan terbuka. Akrab dengan posisi di bawah mungkin yang mendorongnya menjadi seorang yang idealis dan keras.

“Dulu kalo tau yang lain (pemain seangkatan lain) udah bisa ini itu rasanya jengkel sendiri liatnya. Pokoknya gue harus bisa ngejar mereka gimana pun caranya” jelas Tsawab. Tentu saja bicara soal “cara apa pun” saya cukup akrab, saya ingat dia sering mengajak saya dan teman-teman lain melakukan latihan ekstra. Selalu datang  satu jam lebih awal untuk bisa melatih kekurangan sudah biasa untuknya. “Tau sendiri kalo udah masuk program latihan pasti menu latihannya udah beda, jadi kalo mau ngelatih yang belum bisa yaa harus sebelum latihan mulai” tambahnya.

Tsawab sekarang berusia 25 tahun dan dia sudah bermain hockey sejak kelas tiga SD yang artinya dalam separuh lebih hidupnya dia tidak pernah berhenti bermain hockey. Petanyaannya adalah sudah sejauh apa ia sekarang? Wajar bukan menanyakan ini mengingat 19 tahun bukan waktu yang sebentar jika kamu dididik untuk jadi atlet bukan sekedar pemain. “Kompetisi tertinggi gue untuk saat ini yaa tahun lalu pas PRA PON di Jakarta. Itu pun tidak berakhir baik, yaa lu tau sendiri kan, dar, kita (D.I.Y) peringkat terakhir”. Ah, sialnya dia coba mengingatkan saya pada memori menyebalkan itu. Kau tau ketika kamu adalah “Atlet Hockey Zaytun” seolah DNA juara mengalir di nadimu, hal yang selalu pelatih kami di Zaytun sering ulang-ulang adalah bahwa “juara hanya ada satu, sisanya hanya peringkat dua, tiga, dan seterusnya”. Kalimat itu memang cukup racun. Dulu bahkan kami sering bersedih jika mendapat peringkat (baca: juara) dua atau tiga. Bayangkan perasaanmu jika jadi Tsawab atau mungkin saya, kami di peringkat 10 dari 10 peserta. Rasanya seperti nadiku akan meledak.

Menurut Tsawab dedikasi yang dia berikan untuk Kota Jogja atau D.I.Y tidak pernah seindah masa sekolah dulu. Ya, bukannya hidup begitu? Semakin kamu hebat kamu akan dapat tantangan baru. “Ya, tantangan memang bagus tapi gimana dengan manajemen yang bobrok? Itu yang jadi masalah buat Jogja sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan regenerasi pun kacau, mau sampai kapan bapak-bapak anak tiga yang sibuk cari nafkah keluarga dipake” jawab Tsawab dengan agak emosional.

Oh, rasanya ingin sekali orang seperti Tsawab bisa turut membantu dari dalam tubuh federasi tapi sayang Jogja bukan tempatnya. “Mereka (pengurus federasi) hanya suka kita sebagai pemain, bukan tukang atur, kita gak bisa berbuat apa-apa. Saat ini lebih baik menjaga adik-adik kita dan harus diakui Jogja bukan tempat yang cocok untuk jadi atlet hockey pro. Lulusan Zaytun kalo mau ke Jogja buat jadi atlet hockey mending gue suruh ke Jakarta apa Bandung, sana lebih mendukung”.

Sekarang Tsawab sedang memutuskan vakum dari dunia hockey dengan berbagai alasan yang terakumulasi seperti bom waktu. “Gue vakum tapi gue gak mungkin jauh-jauh dari hockey, pada akhirnya pasti akan balik seolah-olah emang udah jalannya begini”.

(Badar Anshori)

Posting Komentar

0 Komentar