DIBUTUHKAN NAMUN SULIT DITEMUKAN, MALAH DIJADIKAN LADANG PERAMPASAN

Foto: Yani

Sejak dikabarkannya virus yang sedang merebak dikalangan dunia masuk ke Indonesia, masyarakat mulai panik dan berbondong-bondong menuju tempat perbelanjaan, apotek dan tempat tersedianya kebutuhan yang dianggap dapat menyelamatkan mereka dari virus covid-19 ini. Apa yang sebenarnya mereka cari? Tentu saja masker dan pencuci tangan tanpa bilas atau hand sanitizer. Kehebohan pertama dimulai dari masyarakat ibu kota karena pada mulanya virus menyerang dua warga disana. Semakin menyebarnya virus ke berbagai daerah di negara ini, gak cuma di ibu kota aja yang heboh dan mulai panik tapi semua masyarakat di seluruh penjuru Indonesia. Keserakahan dan tingkat egois masyarakat mulai meningkat drastis. Bahan pangan pokok diborong habis demi persiapan pengisolasian diri dirumah masing-masing. Gak cuma itu aja, masker dan hand sanitizer udah mulai jarang banget ditemui dirak-rak tempat penjualan. Kemana sih perginya? 

Kesulitan mencari barang berharga itu cukup disesalkan oleh ibu Yani. Seorang pekerja yang dituntut harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai orang yang banyak bersentuhan tangan dengan banyak org diluar sana ditengah maraknya virus covid-19 menyebabkan ia sangat membutuhkan cairan antiseptik tersebut. Cuci tangan tentu saja akan tetap dilakukan, tapi gak mungkin kan dilakukan setiap saat setelah bersentuhan dengan orang lain/suatu benda? Selain tidak efektif, itu juga akan memperlambat kerja beliau. Pada awal bulan februari, pencarian sebuah hand sanitizer masih cukup mudah. Ibu yani masih dapat membeli hand sanitizer tersebut sebanyak 3buah saja dari batas maksimal pembelian 6buah. Siapa yang berfikir bahwa pada akhirnya untuk mendapatkan cairan tersebut akan sesulit ini dan justru ditemukan banyak perampas yang berkedok penjualan cairan itu. 

“kalo saya tau beli antis, dettol, nuvo bakal sesusah ini, tau gitu saya ambil 6. Karena pekerjaan saya dan suami bisa dibilang cukup beresiko karena kan ketemu banyak orang, salaman, pegang banyak benda yang kita gak tau itu bersih atau enggak gitu kan makanya sebisa mungkin bawa antiseptik kaya gitu. Juga untuk anak saya masih sd yang kalo seumur dia kan susah ngasih tau suruh cuci tangan, mau gak mau kalo lagi main sama temennya dibawain antis jadi biar rajin bersihin tangan. Malah keadaannya kaya gini” jelasnya.

Ibu Yani juga menuturkan bahwa yang menjengkelkan bagi dirinya dan mungkin masyarakat lain yaitu mulai munculnya bisnis baru, penimbunan masker dan hand sanitizer dan menjual kembali dengan harga yang tak masuk diakal. Ketika barang sudah sulit ditemukan dipasaran, jalan alternatifnya adalah mencari di toko online. namun yang ditemukan justru barang dengan lonjakan harga yang sangat jauh. 1 botol hand sanitizer dengan ukuran 50ml harganya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Bagaimana hal ini tidak membuat ibu Yani sangat terkejut dan keheranan. Barang yang biasanya ia bisa dapatkan hanya dengan 16rb-an saja, kini apabila ia mau mendapatkannya harus mengeluarkan uang dengan nominal yang cukup tinggi. Saat negera lain berusaha membantu dengan memberikan stok lebih dan harga yang stabil, di negara ini justru berlomba-lomba menjadi siapa yang akan menjadi paling kaya dan untung. Jahat dan kejam mungkin itulah predikat yang bisa disematkan sekarang ini bagi para penimbun kekayaan pada situasi yang sedang gawat. 

“rasanya pengen marah dan ngasih tau ke yang jualan bisa gak sih gak mikirin duit aja, ini lagi genting loh. Lagi gawat. Jangan egois lah. Yang butuh banyak, dan gak semua orang yang butuh itu berada. Saya ya mampu aja beli sebenernya tapi saya gak mau bisnis kaya gini dilanggengkan dan sukses. Dengan kaya gitu, orang bakal semakin gila buat jualan karena menganggap laku. Yang rugi kan gak hanya kita sebagai masyarakat yang gak berurusan sama orang sakit, tapi perawat, dokter dan tenaga medis lainnya mungkin juga jadi kesulitan dan menyayangkan sekali akan hal ini” Ungkap ibu Yani. Memang terkadang orang yang sudah mulai gelap mata untuk uang akan hanya peduli pada dirinya dan uang. Tak peduli tentang bagaimana dampak yang dia lakukan. 

Hingga sekarang meskipun ada gertakan dari pemerintah mengenai hukuman bagi penimbun masker dan hand sanitizer, para manusia licik tidak kehabisan akal dan tetap menjalankan bisnisnya. Belum ada solusi yang efektif untuk menurukan harga hand sanitizer ini. Gerak pemerintah dalam penegakan hukuman pun belum merata, jadi diluar sana masih banyak sekali perampas hak masyarakat untuk sehat dan bersih. Ibu Yani berharap, segera ditegakkannya hukum yang merata dan kembalinya harga barang kebutuhan masyarakat yang normal dan mudah didapatkan seluruh masyarakat dari berbagai kalangan. 
(Kiki Salma Afrizalia)

Posting Komentar

0 Komentar