Wisata Solo: Pesona Sendratari Rama Tundung Balekambang Dibalik Purnama Yang Mendung



SURAKARTA – Ribuan warga Surakarta terpukau dengan persembahan pagelaran kolosal Sendratari Ramayana Rama Tundung di panggung Taman Balekambang yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Jumat  (14/02). 

Pementasan Sendratari Ramayana Rama Tundung dibalut gerimis dengan hawa dingin yang melingkup disepanjang area Balekambang. Namun hal tersebut tidak menyurutkan antusias anak-anak Sanggar Sangcrita Surakarta. Pada malam gerimis itu, acara digelar dengan pembukaan tari payung yang dibawakan oleh sekelompok anak dari Sanggar Sangcrita. 

“Diselenggarakan pagelaran Sendratari Ramayana Rama Tundung yang diadakan setiap bulan pada akhir pekan diharapkan pengunjung dari luar kota yang sedang berlibur di kota solo bisa ikut menikmati acara tersebut, yang kebetulan acara ini digratiskan untuk umum” ujar Bapak Sumeh selaku Kepala UPT Dinas Pariwisata Surakarta saat dikonfirmasi, jumat (14/02/2020)

 Sendratari Ramayana merupakan tarian khas Surakarta yang menjadi ciri khas dari Surakarta. “Orang-orang Surakarta Prihatin, sebab Ramayana yakni tarian asli dari surakarta yang sekarang pentas di Prambanan dan pemainnya asli dari Surakarta, namun kenapa di Surakarta tidak ada pagelaran Sendratari Ramayana, oleh sebab itu Dinas Pariwisata Surakarta tahun 2009 mencanangkan pagelaran Sendratari Ramayana menjadi agenda rutin tahunan yang digelar di Taman Balekambang Surakarta.” Begitu imbuh Bapak Sumeh selaku Kepala UPT Dinas Pariwisata Surakarta yang ditemui disela acara. 

Pagelaran Sendratari Ramayana menggandeng sanggar-sanggar yang ada di Kota Surakarta, hal ini dengan tujuan membina sanggar-sanggar yang ada dikota Surakarta sebagai wujud apresiasi pemerintah kota terhadap sanggar-sanggar yang masih berkarya, imbuhnya. 

Selain itu pagelaran Sendratari Rama Tundung di Taman Balekambang mendapatkan apresiasi dari warga setempat. “acara pagelaran ini sangat menarik dan keren, dan hal ini bisa mendongkrak pariwisata yang ada di Surakarta, Pun sebagai upaya untuk Nguri-Nguri kebudayaan”. Ujar Jaka selaku penonton. (Triyas Chusnul F).

Posting Komentar

0 Komentar