David Efendi: Pustaka adalah Paradigma Membaca Pergerakan Peradaban



Sleman-Ketua Serikat Taman Pustaka (STP), David Efendi menegaskan urgensi dinamisasi arsip dan penulisan sejarah Muhammadiyah pada forum Majelis Reboan di Rumah Baca Komunitas, Rabu malam (12/2).

Efendi menyayangkan kurangnya keberadaan jurusan sejarah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Hingga saat ini jurusan sejarah di PTM hanya ada pada dua PTM yaitu di Universitas Muhammadiyah Metro (Lampung) dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Pada diskusi dengan tema Memulihkan Arsip, Memuliakan Sejarah Muhammadiyah pada forum yang digagas oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) tersebut, Efendi berpendapat bahwa pemulihan arsip membutuhkan rekayasa radikal. “Saya melihat upaya-upaya itu masih sangat minimalis,” ujarnya.

Efendi menawarkan beberapa gagasan dalam agenda pemulihan arsip dan sejarah Muhammadiyah. Gagasan yang pertama adalah pemisahan Majelis Pustaka dan Informasi. “Majelis Pustaka bukan sekedar teknis, tetapi paradigma membaca pergerakan peradaban,” ujar Efendi. Pemisahan bidang pustaka dengan informasi diharapkan dapat membantu mengurangi beban MPI. Pemisahan bidang juga berarti baik bidang pustaka maupun informasi dapat lebih efektif dalam melaksanakan tugas. Selain itu pemulihan arsip harus diiringi dengan pengarsipan dengan teknologi yang lebih canggih.

Penulisan sejarah di daerah-daerah juga menjadi poin penting yang ditekankan oleh Efendi. Keberadaan sejarah lokal dapat membantu membangun narasi sejarah Muhammadiyah. Tokoh-tokoh dan sejarah di daerah sebenarnya memiliki sumbangsih yang besar terhadap perkembangan Muhammadiyah. Namun sayangnya sejarah di daerah kurang dibunyikan. Sejarah lokal menawarkan narasi daerah, untuk memperluas sejarah Muhammadiyah yang cenderung Jogjasentris. Narasi sejarah yang lebih luas dapat membantu memberikan pemahaman yang mendalam dan komprehensif. Sayangnya nalar sejarah di Indonesia masih terbatas pada penokohan tunggal.

Pemulihan arsip membutuhkan banyak pengorbanan. Baik dari segi pendanaan maupun sumber daya manusia yang bekerja. PTM juga diharapkan dapat turut berperan menuliskan sejarah Muhammadiyah di tiap-tiap daerahnya sekaligus menjadi pusat dokumentasi arsip lokal maupun nasional. Efendi menyatakan bahwa arsip perlu dihidupkan, baik dengan digitalisasi, visualisasi, pembuatan infografis, maupun mendinamisasi arsip dengan museum.

Efendi juga menekankan peran AMM dalam mengawal isu sejarah. Terutama menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta Juli mendatang. (Labibah Hanoum Hanif Salsabila).

Posting Komentar

0 Komentar